Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Fathu Makkah (Penaklukan Makkah)

6/22/2015 Add Comment

Remash-smkn1batam.com - Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan mamuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. (QS. An-Nashr [110]: 1-3)..

Fathu Makkah

(penaklukan Makkah) merupakan peristiwa yang sangat penting dalam perjalanan dakwah Islam periode awal (masa kenabian). Dengan peristiwa ini, Allah menyelamatkan kota Makkah dari belenggu kesyirikan dan kezaliman menjadi kota Islam, yang bernafaskan tauhid dan sunah. Dengan peristiwa ini, Allah SWT mengubah kota Makkah yang sebelumnya merupakan lambing kesyirikan, kebodohan, kesombongan dan keangkuhan, menjadi kota yang melambangkan keimanan dan kepasrahan yang sesunggunhnya kepada Allah SWT.
Pada suatu sisi, peristiwa penaklukan besar yang terjadi secara damai ini merupakan buah dari perjuangan keras yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW, setelah beliau mengalami berbagai macam rintangan dakwah yang tidak bisa diwakili oleh kata-kata. Di sisi yang lain, peristiwa ini juga menandakan bahwa perjuangan dakwah Rasulullah SAW, dengan segenap kepedihan dan pengorbanan beliau, akan segera berakhir, dan umat Islam berikutnya harus bersiap-siap menyambut tongkat estafet perjuangan berikutnya. Hal ini telah digambarkan dengan jelas dalam surat an-Nashr di atas. Itulah sebabnya mengapa kita perlu banyak belajar dari peristiwa agung ini.

Kaum Musyrik Bermain Api

Perjanjian Hudaibiyah yang deteken pada bulan Dzul Qa’dah, 6 H. (Maret 628 M), telah membuka kesempatan kepada setiap suku untuk bersekutu dengan pihak yang disukainya. Suku Khuza’ah memilih bersekutu dengan kaum muslimin, sedangkan suku Bakr bersekutu dengan Quraisy. Kedua suku itu sejak zaman Jahiliyah telah bermusuhan. Perjanjian Hudaibiyah itulah yang meniscayakan permusuhan itu berhenti. Namun, pada bulan Syaban 8 H (23 bulan setelah perjanjian ditanda tangani), suku Bakr menyerang suku Khuza’ah secara sepihak. Suku Quraisy membantu penyerangan tersebutdengan senjata dan personil, sehingga belasan warga suku Khuza’ah tewas. Karena itulah utusan suku Khuza’ah meminta bantuan kepada Rasulullah SAW di Madinah. Pencederaan perjanjian damai secara sepihak ini mendorong Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk membela sekutu mereka dan menghukum musuh. Dan pada gilirannya, perjanjian damai yang semula dibenci oleh mayoritas kaum Muslimin itu ternyata menjadi awal bagi kemenangan besar: Fathu Makkah.

Menang tanpa Berperang

Sebagai respon dari penghianatan kaum Quraisy itu, maka pada tanggal 20 Ramadhan 8 H (Januari 630 M), Rasulullah SAW memimpin 10.000 pasukan menuju kota suci Makkah. Di sepanjang jalan, banyak anggota suku-suku Arab yang bergabung dengan pasukan beliau SAW. Abu Sufyan bin Harb, pemimpin suku musyrik Qurays, telah gagal melakukan diplomasi untuk memperbaharui perjanjian dengan Rasulullah SAW. Mengetahui pergerakan umat Islam yang luar biasa besar ini, Abu Sufyan pun gemetar katakutan. Akhirnya, ia meminta jaminan keamanan dari Rasulullah SAW. Dan, di lembah Zhahrah (antara Makkah dan Madinah), Abu Sufyan akhirnya menyatakan masuk Islam di hadapan Rasulullah SAW.

Selanjutnya, Abu Sufyan segera kembali ke Makkah dan mengumumkan kepada masyarakat Makkah, “Wahai kaum Quraisy, ini Muhammad telah datang membawa pasukan yang tidak bisa kalian tandingi. Karena itu, barangsiapa memasuki rumah Abu Sufyan, maka ia aman. Barangsiapa memasuki rumahnya, maka ia aman. Dan, barangsiapa memasuki Masjidil-Haram, maka ia aman” Penduduk Makkah pun berhamburan mencari selamat, dengan memasuki rumah masing-masing atau Masjidil-Haram. Di sini, Abu Sufyan telah kalah mental sekaligus mematikan mental kaumnya sendiri. Kaum Quraisy telah kalah justru sebelum pasukan Islam dating. Akhirnya, umat Islam melakukan peprangan apapun. Mereka sudah menang tanpa menghunus pedang.

mekah zaman dulu
Pulang Menebar Kedamaian
Pasukan Islam terus berjalan, sehingga menebarkan rasa gentar di hati musuh pada setiap lembah dan kampong yang mereka lalui. Mereka berjalan sampai lembah Dzi Tuwa, hingga akhirnya memasuki Makkah yang sunyi.  Rasulullah SAW menunggang untanya dengan memakai penutup kepala hitam dan
merendahkan kepalanya sehingga jenggotnya menyentuh pelana unta, sebagai bentuk tawadhu’ kepada Allah SWT. Dahulu beliau diusir dan diburu oleh kaum musyrik Quraisy untuk dibantai. Kini, 8 tahun setelah kejahatan itu, beliau kembali dengan kekuatan besar menaklukan kampun halaman. Namun kendati demikian, beliau menyongsong kemengan ini tanpa ekspresi kesombongan sidikit pun. Malah, beliau menunjukkan kerendahan hati dan ketundukan di hadapan Allah SWT. Beliau tidak melakukan pembakaran, perusakan, pembantaian, dan semacamnya. Beliau kembali ke
kampong halaman dengan menebarkan kedamaian. Maka, negeri yang dahulu diwarnai penindasan kaum musyrik terhadap kaum Muslimin kini telah menjadi negeri yang aman yang penuh kedamaian. Keamanan seperti ini tidak pernah dirasakan sebelumnya, terutama oleh umat Islam. Inilah kemenangan yang sesungguhnya.

Kemerdekaan Sejati

Nabi SAW memasuki Makkah langsung menuju Ka’bah. Di sekitar Kakbah masih terdapat sekitar 360 berhala. Kemudian, Nabi SAW menghancurkannya satu persatu dengan sebuah pentungan di tangannya seraya mengucapkan: “Katakanlah: Yang benar telah dating dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Isra’ [17]: 81). “Katakanlah: Kebenaran telah dating, dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.” (QS. Saba’ [34]: 49).
Kini, kota Makkah tidak saja bebas secara fisik bagi umat Islam, akan tetapi juga telah terbebaskan dari belenggu kesyirikan, kebatilan dan kekufuran. Kini, Makkah telah suci “jiwa dan raga”.
Selanjutnya, Rasulullah SAW memerintahkan Bilal naik ke atas Ka’bah untuk mengumandangkan azan salat. Kemudian, orang-orang berduyun masuk ke dalam agama Allah SWT . setelah orang-orang berkumpul di sekitarnya, Nabi SAW sambil memegang kedua penyanggah pintu Ka’bah berkhotbah kepada mereka: “Tiada Ilah kecuali Allah semata. Tiada sekutu baginya. Dialah (Allah) yang telah menepati janji-Nya, memenagkan hamba-Nya (Muhammad) dan mengalahkan musuh-musuh-Nya sendirian. sesungguhnya, segala macam balas dendam, harta dan darah, semua berda di bawah kedua kakiku ini, kecuali penjaga Ka’bah dan pemberi air minum kepada Jemaah Haji. Wahai kaum Quraisy! Sesungguhnya Allah telah mencabut dari kalian kesombongan jahiliah dan mengagungkannya dengan keturunan. Semua orang berasal dari Adam dan Adam itu berasal dari tanah.”
     
Kemudian, Nabi SAW membacan ayat (artinya), “Hai manusia sekalian! Sesungguhnya Kami (Allah) telah menjadikan kamu sekalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Dan Kami jadikan kamu beberapa bangsa dan suku, agar kamu saling mengenal antara satu dengan yang lain. Sesungguhnya, yang laing mulia di antara kamu dalam pandangan Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah itu Maha Tahu dan Maha Mengerti.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13).

Selanjutnya, Nabi SAW bertanya, “Wahai kaum Quraisy! Menurut pendapat kalian, tindakan apapkah yang hendak kuambil terhadap kalian?” Mereka menjawab, “Tentu yang baik-baik! Hai saudara yang mulai dan putra yang mulia.” Nabi SAW lalu bersabda, “Pergilah kalian semua. Kalian semua bebas.”

---
Sumber : www.cangcut.net/2013/04/sejarah-peristiwa-fathu-meka.html

Kuliah S2 Sambil Bekerja Sungguh Bisa Dilakoni: Keduanya Akan Sukses Dengan Menerapkan 7 Trik Ini

Kuliah S2 Sambil Bekerja Sungguh Bisa Dilakoni: Keduanya Akan Sukses Dengan Menerapkan 7 Trik Ini

5/27/2015 Add Comment
Remash-smkn1batam - Sekarang ini banyak sekali para mahasiswa S2 yang merangkap sebagai pekerja, atau juga para karyawan yang menjalankan peran sebagai mahasiswa S2. Memang terkesan berat pada awalnya. Banyaknya beban tanggung jawab yang tiba-tiba terpasak di bahu, belum lagi menyusutnya waktu karena kepadatan jadwal yang dipunya sering membuat banyak orang merasa enggan bahkan menyerah di tengah jalan.
Namun, sebenarnya ada beberapa kiat jitu yang bisa kamu lakoni, supaya dua kesibukan yang sedang kamu jalani hampir dalam waktu yang bersamaan ini bisa sukses kamu lewati. Bagaimana caranya? Di sini Hipwe akan kasih tahu caranya.

1. Untuk mempermudah proses belajarmu, kamu bisa mengambil kuliah Magister yang memang sesuai dengan bidang pekerjaanmu.

cari jurusan yang memang sesuai dengan bidang pekerjaanmu
cari jurusan yang memang sesuai dengan bidang pekerjaanmu via catatandosen43.wordpress.com
Alih-alih mencari jurusan yang berbeda jauh dengan bidang pekerjaan yang kamu geluti saat ini, kenapa kamu tak ambil saja jurusan yang memang memiliki kesamaan bidang dengan pekerjaanmu. Hal ini akan membantumu mendapat ilmu yang jelas-jelas berguna bagi dunia kerjamu. Di saat berkuliah pun kamu tak terlalu kelimpungan mengejar materi. Karena pada dasarnya apa yang kamu pelajari, sedikit demi sedikit sudah kamu temui dan dipraktikkan melalui pekerjaanmu sehari-hari.
Nanti ketika kamu sudah lulus dan menyandang gelar Magister, tentunya ilmu yang kamu miliki tak sia-sia karena bisa mengasah keahlianmu dalam bekerja yang makin mumpuni. Dan, hal ini juga menguntungkan karena berkat gelar yang kamu peroleh sekaligus kecakapanmu bekerja, bisa turut menaikkan nominal pundi rupiah yang kamu terima tiap bulannya.

2. Dengan menggeluti bidang pekerjaan dan pendidikan yang hampir sama, jalanmu akan semakin menemukan kemudahan. Studi kasus yang harus dikerjakan tak lagi membuat kelimpungan.

studi kasus yang harus kamu kerjakan tak lagi membuat kelimpungan
studi kasus yang harus kamu kerjakan tak lagi membuat kelimpungan viacatatandosen43.wordpress.com
Selain ilmu yang kamu pelajari terpakai, hal ini sebenarnya juga akan mempermudah proses belajarmu. Pasalnya, ketika nanti menekuni dunia perkuliahan S2 ini, kamu akan dihadapkan dengan banyak studi kasus. Karena bidang yang kamu pelajari berkaitan dengan pekerjaan yang kamu geluti, tentunya kamu tak perlu repot lagi untuk mencari contoh studi kasus yang bisa kamu gunakan. Kamu dapat menjadikan masalah yang kamu temui di kantor sebagai studi kasus yang akan kamu tekuni lebih lanjut. Selain mendapatkan kemudahan, tentunya hal ini akan sangat berguna untuk kian memperdalam pemahamanmu atas bidang yang kamu geluti.

3. Selanjutnya, kamu wajib menyusun daftar skala prioritas di buku agenda. Daftar ini akan membantumu untuk memenuhi segala tanggung jawab tepat pada waktunya.

susunlah skala prioritas
susunlah skala prioritas via infos-sante.net
Untuk menghindari terbengkalainya tugas atau pekerjaan, kamu bisa mulai menyusun daftar skala prioritas. Tuliskan hal yang paling penting menurutmu di buku agenda. Hal itu nantinya akan sangat membantu ketika kamu sedang memiliki timbunan tugas dan kewajiban, sehingga kamu tetap tahu mana yang harus lebih dulu dituntaskan.
Daftar yang kamu buat juga bisa menghindarkanmu dari kegemaran menunda-nunda pekerjaan. Hal ini tentunya bisa membantumu untuk tetap seimbang mengatur porsi pekerjaan dan dunia perkuliahan. Jika kamu selalu menepati daftar skala prioritas yang kamu tuliskan bukan tidak mungkin tugas perkuliahan dan beban pekerjaanmu tak akan ada lagi yang terbengkalai.

4. Kemampuan untuk membagi waktu sungguh perlu kamu miliki. Apabila dalam 5 hari kamu sibuk bekerja, maka 2 hari setelahnya bisa kamu gunakan untuk mengejar ketinggalan materi.

porsi kegiatan lainnya harus kamu kurangi
porsi kegiatan lainnya harus kamu kurangi via loveashley.net
Saat kamu sudah memutuskan untuk bekerja, tentu kamu sudah harus memahami konsekuensi yang mengikuti di belakangnya. Hidupmu kini akan lebih banyak terfokus kepada pekerjaan dan juga dunia perkuliahan, sehingga hal-hal yang tidak termasuk di dalam kedua hal itu harus rela porsinya dikurangi.
Semisalnya saja, kamu harus bekerja siang hingga sore pada hari Senin hingga Jumat, kemudian mengambil kelas kuliah pada malam harinya. Kamu pun harus memahami benar bahwa waktu yang tersisa di antara kepadatan jadwalmu harus rela digunakan untuk belajar demi kemajuan pendidikanmu maupun membereskan tugas kantor yang sempat berantakan. 

5. Kamu pun wajib bisa mentarget diri sendiri dengan banyaknya tugas dan tanggung jawab yang harus dibawa. Pulang kerja tepat waktu adalah kunci agar kamu bisa mengerjakan tugas setelahnya.

pulang kerja tepat waktu
pulang kerja tepat waktu via www.ut.ac.id
Selain mengetahui konsekuensi yang harus diterima, kamu juga tentunya perlu menarget diri sendiri supaya kamu tetap bisa menjalankan jadwal keseharianmu dengan teratur. Apabila target diri sendiri yang kamu buat bisa selalu terpenuhi, maka hal ini akan membantumu untuk selalu bisa membagi waktu dengan porsi yang seimbang. Yang perlu kamu lakukan sebenarnya cukup sederhana, kamu hanya harus memusatkan perhatian secara sempurna terhadap hal yang sedang kamu kerjakan sekarang ini.
Semisal saja kamu sedang bekerja, maka kamu harus fokus penuh terhadap pekerjaanmu. Hal ini akan membuat pekerjaan yang akan kamu lakoni akan selesai tepat pada waktunya. Sehingga, hal ini akan membuatmu pulang kantor sesuai dengan waktunya dan kamu bisa menggunakan waktu selanjutnya untuk kuliah ataupun mencicil tugas yang ada.

6. Ciptakan suasana yang bisa melontarkanmu untuk selalu maju ke depan, salah satunya adalah dengan mencari kawan yang selalu bisa menyuburkan minat belajar.

pilihlah kawan yang akan memberi pengaruh positif padamu
pilihlah kawan yang akan memberi pengaruh positif padamu via www.kelaskaryawan.com
Selain dari dalam diri sendiri, kamu juga bisa mencari lingkungan yang membuatmu selalu ingin belajar dan berkembang. Salah satu caranya adalah dengan mencari teman-teman yang memang rajin dan selalu mau bekerja keras untuk menyelesaikan segala tugas tepat waktu. Tanpa disadari, hal ini akan memberikanmu suntikan semangat untuk selalu merasa positif dan rajin dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Tidak hanya itu, teman yang rajin juga bisa menjadi tempat tepat untuk belajar bersama demi lebih memahami materi. 

7. Selalu komunikasikan jadwal kuliah dengan atasan, begitu juga persahabatan dengan kawan sekantor yang harus ditumbuhkan. Ini merupakan cara jitu supaya mereka bisa membantu ketika kamu ada urusan di luar pekerjaan.

akrabkan diri dengan teman-teman satu kantor
akrabkan diri dengan teman-teman satu kantor via hetty-kurnia.blogspot.com
Selain mencari kawan yang pas demi memiliki suasana belajar yang mendukung, kamu juga perlu menciptakan suasana yang mumpuni di lingkungan kerjamu. Hal ini bisa kamu lakukan dengan membangun komunikasi yang baik dengan atasan maupun teman satu kantor.
Komunikasikan jadwal kuliahmu dengan atasan. Dengan begini, atasan akan memahami kesibukan yang harus kamu hadapi saban harinya. Jalinan komunikasi yang baik dengan teman kantor juga sangat perlu untuk ditumbuhkan. Karena kawan yang mengerti benar kesibukanmu ini bisa dengan mudah untuk dimintai bantuan ketika kamu tidak sedang berada di kantor.
Dengan mempraktekkan kiat-kiat jitu di atas, bisa dijamin kuliah dan juga pekerjaan yang sama-sama sedang kamu lakoni akan berjalan beriringan tanpa hambatan. Selalu semangat ya!
-----

SENSITIVITAS si HAWA

9/07/2014 Add Comment
Remash-smkn1batam.tk - Laki-laki lebih dominan menggunakan otak kanan ketimbang otak kiri, sehingga lebih cenderung berfikir realistis dan jarang memaksimalkan perasaannya. Berbeda halnya dengan perempuan yang lincah memadukan penggunaan dua otak tersebut. Hasilnya, dalam memutuskan atau menilai sesuatu, perempuan menyeimbangkan antara pikiran rasional dan perasaan. Walau sebagian besar mereka juga sering terobsesi dengan otak kiri.


Karenanya, emosi wanita sangat peka terutama menyangkut harga diri. Perempuan bisa menangis tiba-tiba untuk masalah yang terlihat sepele dimata pria. Lekas mengambil kesimpulan dari perubahan sikap orang lain. Betapa banyak wanita yang akhirnya mengalami frustasi dan kekecewaan akibat hati yang terluka. Sungguh lama dan susah menyembuhkannya!

Perasaan sentimentil wanita yang benar-benar sensitif dengan kehalusan rasa amat merindukan suasana menyenangkan. Namun disadari atau tidak, kekayaan jiwalah yang membuat kaum hawa sanggup menjalankan multi peran. Baik sebagai putri, ibu, atau istri yang baik. Keistimewaan yang amat komplit itu melahirkan cinta dan kasih sayang. Tanpa sensitivitas, wanita tidak akan peka dengan denyut rasa dalam kehidupan.

Terbukti makhluk “halus” bernama perempuan memang piawai mengelola kepekaan nurani. Mereka rajin mengasah ketajaman mata hati, sehingga peka membaca tanda-tanda jiwa yang tersuruk. Tidak membahasakan kehendak secara verbal/lisan, kecuali isyarat tersirat yang butuh ketejaman hati tingkat tinggi guna memahaminya. Itulah sensitifitas yang menjadi sumber inspirasi dan motivasi, sekaligus energi wanita!

Oleh sebab itu, jangan main-main dengan perasaan perempuan. Berhati-hatilah dengan bagian yang paling halus dan lembut itu. Ibarat kaca, sekali pecah langsung berderai-derai. Sungguh sulit merakit kepingan-kepingan itu utuh kembali. Kalaupun bisa, akan tersisa goresan-goresan luka yang menyisakan trauma selamanya.

Wanita berperasaan halus bahkan rapuh, umpama kapas. Pada banyak kesempatan perasaan mereka lebih sering memberi warna. Dia akan menjadi malaikat penolong bila jiwa dihargai dan perasaannya di sayangi. Namun, bisa berubah drastis menjadi pembunuh berdarah dingin jika hatinya dilukai dan disakiti. Atas nama cinta, wanita berani menanggung seperih apapun derita. Tapi mana ada yang sanggup menerima segores luka di dada.

Ketika pengkhianatan sensitivitas rasa terjadi, maka perubahan seratus delapan puluh derajat melanda. Kesukaan akan berganti kebencian. Kelembutan bertukar dengan keganasan. Sahabat lekas berubah sebagai musuh. Seorang raja jatuh pangkat dimatanya umpama hamba sahaya.

Walau bukan semua wanita seperti itu, setidaknya dapat menjadi bahan renungan bagi kaum Adam. Jangan coba-coba bermain api dengan sensitivitas perasaan kaum hawa. Karakter wanita adalah sesuatu yang seni, halus, lagi sensitif. Bagi menjaganya, bukanlah urusan gampang kecuali dengan ilmu dan iman yang kuat .



---

disadur dari : Yulisa Ratih Istiana

Al Quran Kitab Suci Agama Islam

8/25/2014 Add Comment
Sumber Gambar
Remash-smkn1batam.tk - Al-Qur’ān adalah kitab suci agama Islam. Umat Islam percaya bahwa Al-Qur’an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah yang diperuntukkan bagi manusia, dan bagian dari rukun iman, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melalui perantaraan Malaikat Jibril. Dan sebagai wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW adalah sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-‘Alaq ayat 1-5.
Ditinjau dari segi kebahasaan, Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang berarti “bacaan” atau “sesuatu yang dibaca berulang-ulang”. Kata Al-Qur’an adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara’a yang artinya membaca. Konsep pemakaian kata ini dapat juga dijumpai pada salah satu surat Al-Qur’an sendiri yakni pada ayat 17 dan 18 Surah Al-Qiyamah yang artinya:
“Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur’an (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami. (Karena itu,) jika Kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti {amalkan} bacaannya”.(75:17⁠-75:18⁠)
Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan Al-Qur’an adalah : “Kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya termasuk ibadah”.

Adapun Muhammad Ali ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur’an sebagai berikut:
“Al-Qur’an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas”
Dengan definisi tersebut di atas sebagaimana dipercayai Muslim, firman Allah yang diturunkan kepada Nabi selain Nabi Muhammad SAW, tidak dinamakan Al-Qur’an seperti Kitab Taurat yang diturunkan kepada umat Nabi Musa AS atau Kitab Injil yang diturunkan kepada umat Nabi Isa AS. Demikian pula firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah, seperti Hadits Qudsi, tidak termasuk Al-Qur’an.
Jaminan Tentang Kemurnian Al-Quran dan Bukti-Buktinya
Kemurnian Kitab Al-Quran ini dijamin langsung oleh Allah, yaitu Dzat yang menciptakan dan menurunkan Al-Quran itu sendiri. Dan pada kenyataannya kita bisa melihat, satu-satu kitab yang mudah dipelajari bahkan sampai dihafal oleh beribu-ribu umat Islam.
Nama-nama lain Al-Qur’an
Dalam Al-Qur’an sendiri terdapat beberapa ayat yang menyertakan nama lain yang digunakan untuk merujuk kepada Al-Qur’an itu sendiri. Berikut adalah nama-nama tersebut dan ayat yang mencantumkannya:
Al-Kitab, QS(2:2),QS (44:2)
Ar-Rahmat (karunia): QS(27:77)
Al-Furqan (pembeda benar salah): QS(25:1)
Ar-Ruh (ruh): QS(42:52)
Al-Bayan (penerang): QS(3:138)
Adz-Dzikr (pemberi peringatan): QS(15:9)
Al-Kalam (ucapan/firman): QS(9:6)
Al-Mau’idhah (pelajaran/nasehat): QS(10:57)
Al-Busyra (kabar gembira): QS(16:102)
Al-Hukm (peraturan/hukum): QS(13:37)
An-Nur (cahaya): QS(4:174)
Al-Hikmah (kebijaksanaan): QS(17:39)
Al-Basha’ir (pedoman): QS(45:20)
Asy-Syifa’ (obat/penyembuh): QS(10:57), QS(17:82)
Al-Balagh (penyampaian/kabar) QS(14:52)
Al-Huda (petunjuk): QS(72:13), QS(9:33)
Al-Qaul (perkataan/ucapan) QS(28:51)
At-Tanzil (yang diturunkan): QS(26:192)

Struktur dan pembagian Al-Qur’an
Surat, ayat dan ruku’
Al-Qur’an terdiri atas 114 bagian yang dikenal dengan nama surah (surat). Setiap surat akan terdiri atas beberapa ayat, di mana surat terpanjang dengan 286 ayat adalah surat Al Baqarah dan yang terpendek hanya memiliki 3 ayat yakni surat Al Kautsar, An-Nasr dan Al-‘Așr. Surat-surat yang panjang terbagi lagi atas sub bagian lagi yang disebut ruku’ yang membahas tema atau topik tertentu.
Makkiyah dan Madaniyah
Sedangkan menurut tempat diturunkannya, setiap surat dapat dibagi atas surat-surat Makkiyah (surat Mekkah) dan Madaniyah (surat Madinah). Pembagian ini berdasarkan tempat dan waktu penurunan surat dan ayat tertentu di mana surat-surat yang turun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah digolongkan surat Makkiyah sedangkan setelahnya tergolong surat Madaniyah.
Surat yang turun di Makkah pada umumnya suratnya pendek-pendek, menyangkut prinsip-prinsip keimanan dan akhlaq, panggilannya ditujukan kepada manusia. Sedangkan yang turun di Madinah pada umumnya suratnya panjang-panjang, menyangkut peraturan-peraturan yang mengatur hubungan seseorang dengan Tuhan atau seseorang dengan lainnya (syari’ah). Pembagian berdasar fase sebelum dan sesudah hijrah ini lebih tepat, sebab ada surat Madaniyah yang turun di Mekkah.
Juz dan manzil
Dalam skema pembagian lain, Al-Qur’an juga terbagi menjadi 30 bagian dengan panjang sama yang dikenal dengan nama juz. Pembagian ini untuk memudahkan mereka yang ingin menuntaskan bacaan Al-Qur’an dalam 30 hari (satu bulan). Pembagian lain yakni manzil memecah Al-Qur’an menjadi 7 bagian dengan tujuan penyelesaian bacaan dalam 7 hari (satu minggu). Kedua jenis pembagian ini tidak memiliki hubungan dengan pembagian subyek bahasan tertentu.
Pembagian Menurut ukuran surat
Kemudian dari segi panjang-pendeknya, surat-surat yang ada didalam Al-Qur’an terbagi menjadi empat bagian, yaitu:
  • As Sab’uththiwaal (tujuh surat yang panjang). Yaitu Surat Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisaa’, Al-A’raaf, Al-An’aam, Al Maa-idah dan Yunus
  • Al Miuun (seratus ayat lebih), seperti Hud, Yusuf, Mu’min dan sebagainya
  • Al Matsaani (kurang sedikit dari seratus ayat), seperti Al-Anfaal, Al-Hijr dan sebagainya
  • Al Mufashshal (surat-surat pendek), seperti Adh-Dhuha, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas dan sebagainya
Sejarah Al-Qur’an hingga berbentuk mushaf
Al-Qur’an memberikan dorongan yang besar untuk mempelajari sejarah dengan secara adil, objektif dan tidak memihak. Dengan demikian tradisi sains Islam sepenuhnya mengambil inspirasi dari Al-Qur’an, sehingga umat Muslim mampu membuat sistematika penulisan sejarah yang lebih mendekati landasan penanggalan astronomis.
Penurunan Al-Qur’an
Al-Qur’an tidak turun sekaligus. Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Oleh para ulama membagi masa turun ini dibagi menjadi 2 periode, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah. Periode Mekkah berlangsung selama 12 tahun masa kenabian Rasulullah SAW dan surat-surat yang turun pada waktu ini tergolong surat Makkiyyah. Sedangkan periode Madinah yang dimulai sejak peristiwa hijrah berlangsung selama 10 tahun dan surat yang turun pada kurun waktu ini disebut surat Madaniyah.
Penulisan Al-Qur’an dan perkembangannya
Penulisan (pencatatan dalam bentuk teks) Al-Qur’an sudah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Kemudian transformasinya menjadi teks yang dijumpai saat ini selesai dilakukan pada zaman khalifah Utsman bin Affan.
  • Pengumpulan Al-Qur’an di masa Rasullulah SAW Pada masa ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup, terdapat beberapa orang yang ditunjuk untuk menuliskan Al Qur’an yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab. Sahabat yang lain juga kerap menuliskan wahyu tersebut walau tidak diperintahkan. Media penulisan yang digunakan saat itu berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Di samping itu banyak juga sahabat-sahabat langsung menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an setelah wahyu diturunkan.
  • Pengumpulan Al-Qur’an di masa Khulafaur Rasyidin
  • Pada masa pemerintahan Abu Bakar Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, terjadi beberapa pertempuran (dalam perang yang dikenal dengan nama perang Ridda) yang mengakibatkan tewasnya beberapa penghafal Al-Qur’an dalam jumlah yang signifikan. Umar bin Khattab yang saat itu merasa sangat khawatir akan keadaan tersebut lantas meminta kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al-Qur’an yang saat itu tersebar di antara para sahabat. Abu Bakar lantas memerintahkan Zaid bin Tsabit sebagai koordinator pelaksaan tugas tersebut. Setelah pekerjaan tersebut selesai dan Al-Qur’an tersusun secara rapi dalam satu mushaf, hasilnya diserahkan kepada Abu Bakar. Abu Bakar menyimpan mushaf tersebut hingga wafatnya kemudian mushaf tersebut berpindah kepada Umar sebagai khalifah penerusnya, selanjutnya mushaf dipegang oleh anaknya yakni Hafsah yang juga istri Nabi Muhammad SAW.
  • Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan Pada masa pemerintahan khalifah ke-3 yakni Utsman bin Affan, terdapat keragaman dalam cara pembacaan Al-Qur’an (qira’at) yang disebabkan oleh adanya perbedaan dialek (lahjah) antar suku yang berasal dari daerah berbeda-beda. Hal ini menimbulkan kekhawatiran Utsman sehingga ia mengambil kebijakan untuk membuat sebuah mushaf standar (menyalin mushaf yang dipegang Hafsah) yang ditulis dengan sebuah jenis penulisan yang baku. Standar tersebut, yang kemudian dikenal dengan istilah cara penulisan (rasam) Utsmani yang digunakan hingga saat ini. Bersamaan dengan standarisasi ini, seluruh mushaf yang berbeda dengan standar yang dihasilkan diperintahkan untuk dimusnahkan (dibakar). Dengan proses ini Utsman berhasil mencegah bahaya laten terjadinya perselisihan di antara umat Islam di masa depan dalam penulisan dan pembacaan Al-Qur’an.
Mengutip hadist riwayat Ibnu Abi Dawud dalam Al-Mashahif, dengan sanad yang shahih:
Suwaid bin Ghaflah berkata, “Ali mengatakan: Katakanlah segala yang baik tentang Utsman. Demi Allah, apa yang telah dilakukannya mengenai mushaf-mushaf Al Qur’an sudah atas persetujuan kami. Utsman berkata, ‘Bagaimana pendapatmu tentang isu qira’at ini? Saya mendapat berita bahwa sebagian mereka mengatakan bahwa qira’atnya lebih baik dari qira’at orang lain. Ini hampir menjadi suatu kekufuran’. Kami berkata, ‘Bagaimana pendapatmu?’ Ia menjawab, ‘Aku berpendapat agar umat bersatu pada satu mushaf, sehingga tidak terjadi lagi perpecahan dan perselisihan.’ Kami berkata, ‘Pendapatmu sangat baik’.”
Menurut Syaikh Manna’ Al-Qaththan dalam Mahabits fi ‘Ulum Al Qur’an, keterangan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Utsman telah disepakati oleh para sahabat. Demikianlah selanjutnya Utsman mengirim utusan kepada Hafsah untuk meminjam mushaf Abu Bakar yang ada padanya. Lalu Utsman memanggil Zaid bin Tsabit Al-Anshari dan tiga orang Quraish, yaitu Abdullah bin Az-Zubair, Said bin Al-Ash dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam. Ia memerintahkan mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf, dan jika ada perbedaan antara Zaid dengan ketiga orang Quraish tersebut, hendaklah ditulis dalam bahasa Quraish karena Al Qur’an turun dalam dialek bahasa mereka. Setelah mengembalikan lembaran-lembaran asli kepada Hafsah, ia mengirimkan tujuh buah mushaf, yaitu ke Mekkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah, dan sebuah ditahan di Madinah (mushaf al-Imam).
Upaya penerjemahan dan penafsiran Al Qur’an
Upaya-upaya untuk mengetahui isi dan maksud Al Qur’an telah menghasilkan proses penerjemahan (literal) dan penafsiran (lebih dalam, mengupas makna) dalam berbagai bahasa. Namun demikian hasil usaha tersebut dianggap sebatas usaha manusia dan bukan usaha untuk menduplikasi atau menggantikan teks yang asli dalam bahasa Arab. Kedudukan terjemahan dan tafsir yang dihasilkan tidak sama dengan Al-Qur’an itu sendiri.
Terjemahan
Terjemahan Al-Qur’an adalah hasil usaha penerjemahan secara literal teks Al-Qur’an yang tidak dibarengi dengan usaha interpretasi lebih jauh. Terjemahan secara literal tidak boleh dianggap sebagai arti sesungguhnya dari Al-Qur’an. Sebab Al-Qur’an menggunakan suatu lafazh dengan berbagai gaya dan untuk suatu maksud yang bervariasi; kadang-kadang untuk arti hakiki, kadang-kadang pula untuk arti majazi (kiasan) atau arti dan maksud lainnya.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia di antaranya dilaksanakan oleh:
  • Terjemahan dalam bahasa daerah Indonesia di antaranya dilaksanakan oleh:
  • Al-Qur’an dan Terjemahannya, oleh Departemen Agama Republik Indonesia, ada dua edisi revisi, yaitu tahun 1989 dan 2002
  • Qur’an Kejawen (bahasa Jawa), oleh Kemajuan Islam Jogyakarta
  • Terjemah Al-Qur’an, oleh Prof. Mahmud Yunus
  • Qur’an Suadawiah (bahasa Sunda)
  • An-Nur, oleh Prof. T.M. Hasbi Ash-Siddieqy
  • Qur’an bahasa Sunda oleh K.H. Qomaruddien
  • Al-Furqan, oleh A.Hassan guru PERSIS
  • Al-Ibriz (bahasa Jawa), oleh K. Bisyri Mustafa Rembang
Terjemahan dalam bahasa Inggris
  • Al-Qur’an Suci Basa Jawi (bahasa Jawa), oleh Prof. K.H.R. Muhamad Adnan
  • The Holy Qur’an: Text, Translation and Commentary, oleh Abdullah Yusuf Ali
  • The Meaning of the Holy Qur’an, oleh Marmaduke Pickthall
Tafsir
Upaya penafsiran Al-Qur’an telah berkembang sejak semasa hidupnya Nabi Muhammad, saat itu para sahabat tinggal menanyakan kepada sang Nabi jika memerlukan penjelasan atas ayat tertentu. Kemudian setelah wafatnya Nabi Muhammad hingga saat ini usaha menggali lebih dalam ayat-ayat Al-Qur’an terus berlanjut. Pendekatan (metodologi) yang digunakan juga beragam, mulai dari metode analitik, tematik, hingga perbandingan antar ayat. Corak yang dihasilkan juga beragam, terdapat tafsir dengan corak sastra-bahasa, sastra-budaya, filsafat dan teologis bahkan corak ilmiah.
Adab Terhadap Al-Qur’an
  • Ada dua pendapat mengenai hukum menyentuh Al-Qur’an terhadap seseorang yang sedang junub, perempuan haid dan nifas. Pendapat pertama mengatakan bahwa jika seseorang sedang mengalami kondisi tersebut tidak boleh menyentuh Al-Qur’an sebelum bersuci. Sedangkan pendapat kedua mengatakan boleh dan sah saja untuk menyentuh Al-Qur’an, karena tidak ada dalil yang menguatkannya.
  • Sebelum menyentuh sebuah mushaf Al-Qur’an, seorang Muslim dianjurkan untuk menyucikan dirinya terlebih dahulu dengan berwudhu. Hal ini berdasarkan tradisi dan interpretasi secara literal dari surat Al Waaqi’ah ayat 77 hingga 79.
  • Terjemahannya antara lain:56-77. Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, 56-78. pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), 56-79. tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (56:77⁠-56:79⁠)
  • Penghormatan terhadap teks tertulis Al-Qur’an adalah salah satu unsur penting kepercayaan bagi sebagian besar Muslim. Mereka memercayai bahwa penghinaan secara sengaja terhadap Al Qur’an adalah sebuah bentuk penghinaan serius terhadap sesuatu yang suci. Berdasarkan hukum pada beberapa negara berpenduduk mayoritas Muslim, hukuman untuk hal ini dapat berupa penjara kurungan dalam waktu yang lama dan bahkan ada yang menerapkan hukuman mati.
  • Pendapat kedua mengatakan bahwa yang dimaksud oleh surat Al Waaqi’ah di atas ialah: “Tidak ada yang dapat menyentuh Al-Qur’an yang ada di Lauhul Mahfudz sebagaimana ditegaskan oleh ayat yang sebelumnya (ayat 78) kecuali para Malaikat yang telah disucikan oleh Allah.” Pendapat ini adalah tafsir dari Ibnu Abbas dan lain-lain sebagaimana telah diterangkan oleh Al-Hafidzh Ibnu Katsir di tafsirnya. Bukanlah yang dimaksud bahwa tidak boleh menyentuh atau memegang Al-Qur’an kecuali orang yang bersih dari hadats besar dan hadats kecil.
  • Pendapat kedua ini menyatakan bahwa jikalau memang benar demikian maksudnya tentang firman Allah di atas, maka artinya akan menjadi: Tidak ada yang menyentuh Al-Qur’an kecuali mereka yang suci/bersih, yakni dengan bentuk faa’il (subyek/pelaku) bukan maf’ul (obyek). Kenyataannya Allah berfirman : Tidak ada yang menyentuhnya (Al-Qur’an) kecuali mereka yang telah disucikan, yakni dengan bentuk maf’ul (obyek) bukan sebagai faa’il (subyek).
  • “Tidak ada yang menyentuh Al-Qur’an kecuali orang yang suci” [4]Yang dimaksud oleh hadits di atas ialah : Tidak ada yang menyentuh Al-Qur’an kecuali orang mu’min, karena orang mu’min itu suci tidak najis sebagaimana sabda Muhammad. “Sesungguhnya orang mu’min itu tidak najis”
Hubungan dengan kitab-kitab lain
  • Berkaitan dengan adanya kitab-kitab yang dipercayai diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Muhammad SAW dalam agama Islam (Taurat, Zabur, Injil, lembaran Ibrahim), Al-Qur’an dalam beberapa ayatnya menegaskan posisinya terhadap kitab-kitab tersebut. Berikut adalah pernyataan Al-Qur’an yang tentunya menjadi doktrin bagi ummat Islam mengenai hubungan Al-Qur’an dengan kitab-kitab tersebut:
  • Bahwa Al-Qur’an menuntut kepercayaan ummat Islam terhadap eksistensi kitab-kitab tersebut. QS(2:4)
  • Bahwa Al-Qur’an diposisikan sebagai pembenar dan batu ujian (verifikator) bagi kitab-kitab sebelumnya. QS(5:48)
  • Bahwa Al-Qur’an menjadi referensi untuk menghilangkan perselisihan pendapat antara ummat-ummat rasul yang berbeda. QS(16:63-64)
  • Bahwa Al-Qur’an meluruskan sejarah. Dalam Al-Qur’an terdapat cerita-cerita mengenai kaum dari rasul-rasul terdahulu, juga mengenai beberapa bagian mengenai kehidupan para rasul tersebut. Cerita tersebut pada beberapa aspek penting berbeda dengan versi yang terdapat pada teks-teks lain yang dimiliki baik oleh Yahudi dan Kristen.
---

Rasulullah, Sejauh Apa Kami Mengenalmu?

Anonim 8/22/2014 Add Comment
Rasulullah, Sejauh Apa Kami Mengenalmu?

Sudah berapa tahun kita hidup di dunia ini? Apa yang sudah kita lakukan untuk hidup kita? Sudah berimankah kita? Sudah sejauh mana tingkat keimanan kita? Sudah hakiki-kah iman kita?

Diatas adalah beberapa pertanyaan renungan tentang keberadaan kita di dunia ini. Hidup di dunia ini hanya sementara, semua bersifat fana. Kita hidup di dunia ini merupakan perjalanan untuk mencapai Ridha Allah menuju kehidupan yang abadi yaitu akhirat.

Islam adalah agama yang sempurna, agama yang diridhai oleh Allah. Seperti firman Allah, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian dan Aku ridhai Islam sebagai agama kalian.”(QS. Al-Maidah: 3).

Islam telah mengatur segala sendi kehidupan. Untuk semua itu, Allah telah mengutus seorang Rasul, seorang tauladan, seorang figur ummat islam, yaitu Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Salam. Sebagaimana firman Allah, Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah dan sebelum itu, mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imran: 164).

Seorang figur yang tiada duanya, pemimpin yang bijak, manajer yang profesional, suami yang romantis dan masih banyak lagi sisi tauladan beliau. Sebuah karunia Allah bagi ummat manusia agar hidupnya berada dalam jalan yang lurus dan sesuai dengan fitrah kemanusiaannya. Seorang Rasul yang menjadi rahmat bagi alam semesta ini diutus Allah untuk ummat manusia. Sebagaiman firman Allah, Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al-Ahzab: 21).

Sehingga apa yang diperbolehkannya, maka ikutilah dan apa yang dilarangnya, maka jauhilah.

Sebagai seorang muslim, berarti telah mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebuah kesaksian pertama seseorang bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Rasulullah. Pertanyaan muncul, sudah sejauh mana kita mendalami makna dalam kalimat tersebut? Apa saja yang telah kita lakukan untuk kesaksian tersebut? Sadar atau tidak sadar, pernahkah kita merenungi apa yang telah kita ikrarkan tersebut? Inilah yang akan menjadi bukti keimanan dan ketakwaan kita. Tingkat pemahaman dan pengalaman terhadap ikrar kita bisa dilihat dari sejauh mana kita mengenal Rasul kita. Karena dari situlah muncul kepribadian seorang muslim. Tingkat seseorang mengenal Rasulullah tercermin dalam keimanan dan pengamalannya terhadap ajaran Allah. Semakin beriman dan bertaqwa seseorang, semakin tinggi pula rasa cintanya terhadap Rasulullah. Cerminan keimanan dan ketaqwaan seorang muslim adalah Rasulullah. Aisyah berkata bahwa “Akhlaq Rasulullah adalah Al-Qur'an”. Sehingga apabila ingin menjadi pribadi muslim yang taqwa, maka kenalilah Rasulnya, Cintailah Rasulnya.

Kembali ke pertanyaan awal, Sudah sejauh apa saya mengenal Rasulullah? Sudah dalamkah? Atau hanya sebatas mengenal dari luarnya saja? Sebuah renungan bagi kami dan kita semua, pertanyaan sederhana tetapi tak bisa dijawab sesaat, tak bisa dijawab dengan perkataan.

Ketika pertanyaan itu ditujukan pada kami, jujur tak ada kata-kata yang bisa terucap. Dengan menarik nafas dalam-dalam seraya mengerutkan kedua alis, mengulangi kata-kata tersebut dalam hati, mendalami dan merenunginya, menerawang jauh kebelakang mengingat apa saja yang telah dilakukan. Sudah sejauh mana kami mengamalkan ajaran beliau? Ibadah apa saja yang telah kami perbuat, kehidupan seperti apa yang telah kami hasilkan. Apakah kita mengenal Rasulullah hanya dari luar saja? Ketika kita duduk di bangku madrasah, SD, SMP dan sebagainya kita diajarkan sejarah Rasul, kepribadiannya, kepemimpinannya, akhlaknya dan sifat-sifat lainnya. Tetapi sudahkah kita mengamalkannya? Mengenal Rasulullah bukan hanya mengetahui bahkan hafal sejarah beliau, tetapi mengamalkan semua yang telah beliau torehkan. 

Ada suatu kisah, ketika seseorang menghadap Rasululllah, kemudian orang tersebut berkata, “Wahai Rasulullah, saya ingin mencintai engkau.” Rasulullah menjawab,"Benarkah engkau ingin mencintai Aku? Engkau harus bisa menerima konsekuensinya, ketika engkau mencintai Aku maka akan banyak cobaan yang menimpa.” 

Dari kisah tersebut terlihat bahwa mengenal Rasul dan mencintainya bukan perkara mudah, konsekuensinya kita harus mengamalkan ajarannya, ajaran islam.

Sudahkah shalat kita sesuai dengan yang diajarkan Rasul? Sudahkah zakat kita sesuai dengan yang dianjurkannya? Sudahkan perbuatan kita sesuai dengan perbuatan beliau? Kita berada dalam era yang berbeda dengan Rasulullah, tetapi ajaran yang beliau telah sampaikan tidak akan berbeda. 

Kita tidak bisa mengenal Rasulullah sebagaimana para sahabat pada masa itu, tetapi kita bisa mengenalnya dari ajarannya karena Rasulullah sangat mencintai ummatnya. Ketika menghadap mautpun yang beliau pikirkan adalah ummatnya. Oleh karena itu, kenalilah Rasulullah dan cintailah beliau sebagaimana Rasulullah mencintai ummatnya.

Ketika kita merasa ibadah-ibadah kita masih jauh dari yang dianjurkan Rasulullah, mulailah kenali Rasulullah. Kenali dulu dari pribadi Rasulullah, perjalanan hidupnya yang semuanya merupakan suri tauladan bagi kita semua. Dari sirah Rasulullah kita dapat mengambil tauladan untuk menjalani hidup ini. Walaupun zaman sekarang memiliki masalah dan tantangan yang jauh berbeda dengan zaman Rasulullah, tetapi itu bukan merupakan halangan untuk melakukan tauladan yang telah Rasulullah lakukan.

engenali Rasulullah berarti mengenali ibadahnya, mengenali perbuatannya, perkataanya, kepemimpinannya, kebijakannya, kesabaran, keimanan dan ketakwaannya. Kita bandingkan dengan perbuatan kita, Sudah sejauh mana kita mengenal beliau? Oleh karena itu, mari kita mulai kembali menorehkan kebaikan. Kita kenali kembali Rasul kita dengan mengikuti tauladannya. Mengenal Rasulullah adalah kebutuhan setiap muslim untuk membentuk pribadi muslim yang hakiki. Hiasi hidup ini dengan tauladan Rasulullah, dengan segala perbuatan baiknya. Nisacaya hidup ini akan tentram dan indah. Mari kita mengamalkan segala sesuatu yang telah beliau ajarkan. Agama islam adalah agama yang akan mengantarkan kita ke syurga dan Rasulullah adalah pembawa kabar gembira bagi ajaran islam.

Wallahu a'lam.

---

Dinukil dari: http://inspirasi07.blogspot.com/