Tampilkan postingan dengan label Adab-Adab Islamiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adab-Adab Islamiyah. Tampilkan semua postingan

Adab Bersin, Sendawa, Menguap, dan Kentut

Anonim 1/20/2013 Add Comment
Adab Bersin, Sendawa, Menguap, dan Kentut

Bersin, Sendawa, Menguap, dan Kentut termasuk aktivitas yang hampir setiap hari terjadi pada diri kita atau minimal kita melihat orang lain melakukannya. Termasuk keistimewaan syari’at Islam yang mulia adalah tidak satupun aktivitas seorang manusia melainkan telah ada petunjuk dan aturannya di dalam ajaran Islam. Berikut ini akan disajikan sebuah tulisan yang dirangkum dari berbagai sumber terkait asal-usul, faktor penyebab dan beberapa adab islami terkait keempat aktivitas tersebut. Semoga dengan mempraktekkan adab-adab syar’i tersebut dapat menjadi tambahan kebaikan bagi kita semua.

Menguap

Menguap adalah sebuah gerakan refleks menarik dan menghembuskan napas yang sering terjadi saat seseorang merasa letih atau mengantuk. Belum diketahui sebab mengapa orang-orang menguap, namun seringkali dikatakan bahwa penyebabnya adalah jumlah oksigen di paru-paru yang rendah. Menguap mudah sekali menular – 55% orang-orang yang melihat seseorang menguap akan turut menguap dalam waktu lima menit berikutnya. (Wikipedia)

Para dokter di zaman sekarang mengatakan, “Menguap adalah gejala yang menunjukkan bahwa otak dan tubuh orang tersebut membutuhkan oksigen dan nutrisi, dan karena organ pernafasan kurang dalam menyuplai oksigen kepada otak dan tubuh. Dan hal ini terjadi ketika kita sedang kantuk atau pusing, lesu, dan orang yang sedang menghadapi kematian. Dan menguap adalah aktivitas menghirup udara dalam-dalam melalui mulut dan bukan mulut dengan cara biasa menarik nafas dalam-dalam. Karena mulut bukanlah organ yang disiapkan untuk menyaring udara seperti hidung. Apabila mulut tetap dalam keadaan terbuka ketika menguap, maka masuk juga berbagai jenis mikroba dan debu, atau kutu bersamaan dengan masuknya udara ke dalam tubuh. Oleh karena itu, datang petunjuk nabawi yang mulia agar kita melawan “menguap” ini sekuat kemampuan kita, atau pun menutup mulut saat menguap dengan tangan kanan atau pun dengan punggung tangan kiri. (Lihat Al-Haqa’iq Al-Thabiyah fii Al-Islam: Hal 155, dinukil dari web www.alsofwah.or.id via Rumaysho.com)

Berikut ini beberapa Hadits Nabawi yang menjelaskan tentang hakikat dari menguap dan beberapa adab yang berkaitan dengannya.

1. Allah mencintai bersin dan membenci menguap

Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ فَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنْ الشَّيْطَانِ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِذَا قَالَ هَا ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ


"Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Karenanya apabila salah seorang dari kalian bersin lalu dia memuji Allah, maka kewajiban atas setiap muslim yang mendengarnya untuk mentasymitnya (mengucapkan yarhamukallah). Adapun menguap, maka dia tidaklah datang kecuali dari syaithan. Karenanya hendaklah menahan menguap semampunya. Jika dia sampai mengucapkan 'haaah', maka syaithan akan menertawainya.' (HR. Bukhari: 6223 dan Muslim: 2994).

Allah membenci menguap karena menguap adalah aktivitas yang membuat seseorang banyak makan, yang pada akhirnya membawa pada kemalasan dalam beribadah. Menguap adalah perbuatan yang dibenci oleh Allah, terlebih-lebih ketika pada waktu shalat. Para nabi tidak pernah menguap, dikarenakan menguap adalah salah satu aktivitas yang dibenci oleh Allah.

Imam Ibnu Hajar berkata, "Imam Al-Khathabi mengatakan bahwa makna cinta dan benci pada hadits di atas dikembalikan kepada sebab yang termaktub dalam hadits itu. Yaitu bahwa bersin terjadi karena badan yang kering dan pori-pori kulit terbuka, dan tidak tercapainya rasa kenyang. Ini berbeda dengan orang yang menguap. Menguap terjadi karena badan yang kekenyangan, dan badan terasa berat untuk beraktivitas, hal ini karena banyaknya makan. Bersin bisa menggerakkan orang untuk bisa beribadah, sedangkan menguap menjadikan orang itu malas. (Fathul Baari, 10/607).

2. Menutup mulut ketika menguap

Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu 'Anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا تَثَاوَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فِيهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ


"Bila salah seorang dari kalian menguap maka hendaklah dia menahan mulutnya dengan tangannya karena sesungguhnya syaithan akan masuk." (HR. Muslim: 2995).

Ketika seseorang ingin menguap hendaknya ia menutup mulutnya dengan tangan kiri, karena menguap adalah salah satu perbuatan yang buruk.

3. Tidak ada bacaan dzikir khusus yang dibaca ketika menguap

Syaikh Sulaiman al-Majid menegaskan, "Dan kami tidak mengetahui adanya sunnah yang mengajarkan dzikir atau doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika menguap. Adapun yang banyak tersebar menurut sebagian ulama dan kebanyakan masyarakat, bahwa ketika menguap dianjurkan untuk membaca ta’awudz, berdalil dengan firman Allah, yang artinya: 'Apabila syaithan mengganggumu maka mintalah perlindungan kepada Allah.' Sementara Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebut bahwa menguap itu dari syaithan. Pendalilan semacam ini, tidak pada tempatnya. Beliau menyebutkan alasan, "Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mengabarkan kepada kita bahwa menguap itu dari syaithan, beliau tidak mengajarkan kepada kita (untuk membaca ta’awudz), selain perintah untuk menahan dan meletakkan tangan di mulut. Sehingga, andaikan ta’awudz (ketika menguap) disyari'atkan, tentu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan menyebutkannya."

4. Mengguap di dalam shalat

Hadits tentang menguap berasal dari syaithan juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dengan lafazh:

التَّثَاؤُبُ فِي الصَّلاةِ مِنْ الشَّيْطَانِ فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَكْظِمْ مَا اسْتَطَاعَ


"Menguap ketika shalat adalah dari setan, jika salah seorang dari kalian menguap, maka tahanlah semampunya."

Al-Imam Malik Rahimahullah berkata: “Mulutnya ditutup dengan tangannya ketika shalat sampai selesai menguap. Jika menguap ketika sedang membaca bacaan shalat, kalau dia memahami apa yang dibaca, maka hukumnya makruh namun sudah mencukupi baginya (bacaan dia). Tetapi jika tidak memahaminya, maka dia harus mengulangi bacaannya, dan jika tidak mengulanginya, -kalau bacaan tersebut adalah surat Al-Fatihah-, maka itu tidak mencukupi (tidak sah shalatnya), dan kalau selain Al-Fatihah, maka sudah mencukupinya (shalatnya sah)."

Al-Imam An-Nawawi Rahimahullah menerangkan: “Pasal tentang beberapa masalah yang langka di tengah-tengah umat namun sangat butuh untuk dijelaskan kepada mereka, adalah di antaranya, Seorang yang menguap ketika shalat, dia harus menghentikan bacaan shalatnya sampai menguapnya selesai, kemudian melanjutkan bacaannya. Ini adalah perkataan Mujahid, dan ini ucapan yang bagus, ditunjukkan oleh riwayat dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: "Jika salah seorang di antara kalian menguap, hendaknya dia tahan mulutnya dengan tangannya, karena syaithan berupaya untuk masuk." (HR. Muslim).

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan: “Dan di antara yang diperintahkan bagi orang yang menguap adalah: jika sedang shalat, maka dia harus menghentikan bacaannya sampai menguapnya selesai, agar bacaannya tidak berubah. Pendapat yang seperti ini disandarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Mujahid, ‘Ikrimah, dan para tabi’in.

Bersin

“Bersin adalah lawan dari menguap yaitu keluarnya udara dengan keras, kuat disertai hentakan melalui dua lubang: hidung dan mulut. Maka akan terkuras dari badan bersamaan dengan bersin ini sejumlah hal seperti debu, haba’ (sesuatu yang sangat kecil, di udara, yang hanya terlihat ketika ada sinar matahari), atau kutu, atau mikroba yang terkadang masuk ke dalam organ pernafasan. Oleh karena itu, secara tabiat, bersin datang dari Yang Maha Rahman (Pengasih), sebab padanya terdapat manfaat yang besar bagi tubuh. Dan menguap datang dari syaithan sebab ia mendatangkan bahaya bagi tubuh. Dan atas setiap orang hendaklah memuji Allah Yang Maha Suci Lagi Maha Tinggi ketika dia bersin, dan agar meminta perlindungan kepada Allah dari syaithan yang terkutuk ketika sedang menguap (Lihat Al-Haqa’iq Al-Thabiyah fii Al-Islam: Hal 155, dinukil dari web www.alsofwah.or.id via Rumaysho.com)

Berikut ini beberapa Hadits Nabawi yang menjelaskan tentang hakikat dari bersin dan beberapa adab yang berkaitan dengannya.

1. Mengucapkan alhamdulillah ketika bersin

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bagaimana seseorang yang mendengar orang yang bersin dan memuji Allah agar membalas pujian tersebut. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ (الْحَمْدُ لِلَّهِ) وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ (يَرْحَمُكَ اللَّهُ) فَإِذَا قَالَ لَهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَلْيَقُلْ (يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ)


“Apabila salah seorang dari kalian bersin, hendaknya dia mengucapkan, 'alhamdulillah' (segala puji bagi Allah) sedangkan saudaranya atau temannya hendaklah mengucapkan, 'yarhamukallah' (semoga Allah merahmatimu). Jika saudaranya berkata 'yarhamukallah' maka hendaknya dia berkata, 'yahdikumullah wa yushlih baalakum' (semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki hatimu).” (HR. Bukhari: 6224 dan Muslim: 5033).

Macam-macam bacaan yang dapat kita amalkan ketika bersin:
  1. Alhamdulillah (segala puji hanya bagi Allah). 
  2. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin (segala puji bagi Allah Rabb semesta alam). 
  3. Alhamdulillah ‘ala kulli haal (segala puji bai Allah dalam setiap keadaan). 
  4. Alhamdulillahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi, mubaarakan ‘alaihi kamaa yuhibbu Rabbuna wa yardhaa (segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak lagi penuh berkah dan diberkahi, sebagaimana yang dicintai dan diridhai oleh Rabb kami). 

2. Jika orang yang bersin mengucapkan alhamdulillah, orang yang mendengar wajib mendoa'akan

Dari Abu Musa Al-Asy’ari Radhiallahu 'Anhu, beliau berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَحَمِدَ اللَّهَ فَشَمِّتُوهُ فَإِنْ لَمْ يَحْمَدْ اللَّهَ فَلَا تُشَمِّتُوهُ


“Bila salah seorang dari kalian bersin lalu memuji Allah maka tasymitlah dia. Tapi bila dia tidak memuji Allah, maka jangan kamu tasymit dia.” (HR. Muslim: 2992). 

Tasymit adalah mengucapkan "yarhamukallah". Hukum tasymit ini adalah wajib bagi setiap orang yang mendengar seorang muslim yang bersin kemudian mengucapkan “alhamdullillah".

Setelah orang lain mendoakannya, orang yang bersin tadi dianjurkan untuk mengucapkan salah satu doa sebagai berikut:
  1. Yahdikumullah wa yushlih baalakum (mudah-mudahan Allah memberikan hidayah kepada kalian dan memperbaiki keadaan kalian). 
  2. Yaghfirulahu lanaa wa lakum (mudah-mudahan Alah mengampuni kita dan kalian semua). 
  3. Yaghfirullaah lakum (semoga Allah mengampuni kalian semua). 
  4. Yarhamunnallah wa iyyaakum wa yaghfirullaahu wa lakum (semoga Allah memberi rahmat kepada kami dan kamu sekalian, serta mengampuni kami dan mengampuni kalian). 
  5. Aafaanallah wa iyyaakum minan naari yarhamukumullaah (semoga Allah menyelamatkan kami dan kamu sekalian dari api neraka, serta memberi rahmat kepada kamu sekalian). 
  6. Yarhamunnallah wa iyyaakum (semoga Allah memberi rahmat kepada kami dan kepada kalian semua). 

Kita tidak perlu bertasymit ketika:
  1. Ada seseorang yang bersin, dan dia tidak mengucapkan hamdalah. 
  2. Ada seseorang yang bersin lebih dari tiga kali. Jika seseorang bersin lebih dari tiga kali, maka orang tersebut dikategorikan terserang influenza. Kita pun tidak disyariatkan untuk mendoakannya, kecuali doa kesembuhan. 
  3. Ada seseorang membenci tasymit. 
  4. Seseorang yang bersin itu bukan beragama Islam. Walaupun orang tersebut mengucapkan hamdalah, kita tetap tidak diperbolehkan untuk bertasymit, karena seorang muslim tidak diperbolehkan mendoakan orang kafir. Jika orang kafir tersebut mengucapkan alhamdulillah, kita jawab “Yahdikumullah wa yushlih baalakum". 
  5. Seseorang yang bersin bertepatan dengan khutbah jumat. Cukup bagi yang bersin saja untuk mengucapkan hamdalah tanpa ada yang bertasymit, karena ketika khutbah jum’at seorang muslim wajib untuk diam. Begitu pula ketika shalat wajib (shalat fardhu) sedang didirikan, tidak ada keharusan bagi kita untuk bertasymit. 
  6. Kita berada ditempat yang terlarang untuk mengucapkan kalamullah, seperti di dalam toilet. 

3. Menutup wajah serta merendahkan suaran ketika bersin

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا عَطَسَ غَطَّى وَجْهَهُ بِيَدِهِ أَوْ بِثَوْبِهِ وَغَضَّ بِهَا صَوْتَهُ


“Apabila Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersin, beliau menutup wajahnya dengan tangan atau kain sambil merendahkan suaranya.” (HR. Abu Daud: 5029, At-Tirmizi: 2745, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’: 4755).

4. Tidak memalingkan leher

5. Mengeraskan bacaan hamdalah, walaupun dalam keadaan shalat

6. Bagaimana jika bersin lebih dari tiga kali?

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, "Orang yang bersin dido'akan (dengan ucapan yarhamukallah) sebanyak tiga kali. Jika lebih dari itu berarti ia terkena flu." (HR. Ibnu Majah: 3714, Shahih Ibnu Majah: 3704).

Sendawa

Sendawa dapat terjadi karena adanya pelepasan gas-gas yang berasal dari saluran pencernaan, terutama kerongkongan dan perut, melalui mulut. Gas-gas dalam saluran pencernaan ini paling sering disebabkan oleh karena kita turut menelan udara (aerophagia) ketika sedang makan atau minum, terutama ketika menelan makanan atau minuman dengan terlalu cepat. Sendawa akan lebih parah ketika anda membiarkan mulut anda terbuka lebar untuk bersendawa, karena akan ada lebih banyak udara yang tertelan, sehingga dapat menyebabkan sendawa yang berulang. Suara sendawa yang khas dikarenakan getaran dari katup esofagus bagian atas ketika gas-gas yang dikeluarkan melewati katup tersebut.

Faktor penyebab sendawa:
  1. Makanan dan minuman 
  2. Kegelisahan 
  3. Kebiasaan 
  4. Obat-obatan dan penyakit 
Hukum Sendawa Ketika Shalat

Dalam kasus sendawa ketika shalat, ulama hanafiyah membedakan antara sendawa yang bisa ditahan dan sendawa yang tidak bisa ditahan, dan antara sendawa yang keluar suara dan sendawa tanpa keluar suara. Jika sendawa itu bersuara, dan bisa ditahan, namun dikeluarkan oleh orang yang shalat, maka menurut Abu Hanifah dan Muhammad bin Hasan as-Syaibani (murid senior Abu Hanifah). Dalam Durar al-Hukkam Syarh Gharar al-Ahkam dinyatakan,

وَأَمَّا الْجُشَاءُ فَإِنَّهُ حَصَلَ بِهِ حُرُوفٌ وَلَمْ يَكُنْ مَدْفُوعًا إلَيْهِ يَقْطَعُ عِنْدَهُمَا ، وَإِنْ كَانَ مَدْفُوعًا إلَيْهِ لَا يَقْطَعُ، كَذَا فِي الْكَافِي


Untuk sendawa, biasanya keluar suara (huruf), dan bisa ditahan maka membatalkan shalat menurut kedua imam Abu Hanifah dan Muhammad bin Hasan. Namun jika tidak bisa ditahan, tidak membatalkan shalat. Demikian kesimpulan dalam kitab al-Kafi. (Durar al-Hukkam, 1/448).

Sementara dalam madzhab Malikiyah, mereka menyamakan hukum sendawa dengan berdehem. Al-Ujhuri mengatakan,

وَيَنْبَغِي أَنَّ الْجُشَاءَ وَالتَّنَخُّمَ كَالتَّنَحْنُحِ فِي أَحْكَامِهِ


”Yang jelas, sendawa dan keluar dahak, hukumnya sama dengan berdehem.” (al-Fawakih ad-Dawani, 3/15).

Kemudian mereka menjelaskan, jika sendawa itu tidak bisa ditahan, tidak membatalkan shalat dan tidak perlu sujud sahwi. Namun jika bisa ditahan, ada dua pendapat. Dan pendapat yang paling kuat dalam madzhab Maliki, bahwa sendawa bisa membatalkan shalat jika sendawa itu dilakukan karena sengaja dan main-main. (al-Fawakih ad-Dawani ‘ala risalah al-Qoiruwani, 3/15).

Kentut

Flatulensi adalah keluarnya gas melalui anus atau dubur akibat akumulasi gas di dalam perut (terutama dari usus besar atau kolon). Peristiwa keluarnya gas disebut juga kentut atau sering disebut juga buang angin. Kentut biasanya ditandai dengan rasa mulas di perut. Dan biasanya berbau busuk. Ini sering menjadi pertanda kalau seseorang:
  1. Kelebihan makan makanan tertentu. 
  2. Ingin buang air besar. 
  3. Mengalami efek samping obat-obatan tertentu. 
  4. Menderita konstipasi atau sembelit. 
  5. Sedang masuk angin. 

Berikut beberapa adab ketika seseorang kentut:

1. Dilarang menertawakan kentut

Diantara adab dalam islam yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah tidak menghina keadaan orang lain, yang dirinya sendiri juga melakukannya. Kentut adalah bagian dari rangkaian metabolisme tubuh manusia. Sehingga semua orang yang normal mengalaminya. Untuk itu, ketika kita mendengar ada orang yang kentut, kita dilarang menertawakannya. Karena kita sendiripun pernah mengalaminya.

Dari sahabat Abdullah bin Zam’ah Radhiyallahu ‘Anhu, Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan khutbah. Beliau menceritakan tentang kisah onta Nabi Shaleh yang disembelih kaumnya yang membangkang. Beliau menafsirkan firman Allah di surat As-Syams. Kemudian beliau menasehati agar bersikap lembut dengan wanita, dan tidak boleh memukulnya. Kemudian beliau menasihati sikap sahabat yang tertawa ketika mendengar ada yang kentut.

إِلَامَ يَضْحَكُ أَحَدُكُمْ مِمَّا يَفْعَلُ


“Mengapa kalian mentertawakan kentut yang kalian juga biasa mengalaminya”. (HR. Bukhari: 4942 dan Muslim: 2855).

2. Menertawakan kentut kebiasaan jahiliyah

Dalam Tuhfatul Ahwadzi, Syarh Sunan Turmudzi, Al-Mubarokfuri mengatakan, “Dulu mereka (para sahabat) di masa jahiliyah, apabila ada salah satu peserta majelis yang kentut, mereka pada tertawa. Kemudian beliau melarang hal itu.” (Tuhfatul Ahwadzi, 9/189).

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan, "Umumnya orang akan menertawakan dan terheran dengan sesuatu yang tidak pernah terjadi pada dirinya. Sementara sesuatu yang juga dialami dirinya, tidak selayaknya dia menertawakannya. Karena itulah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mencela orang yang menertawakan kentut. Karena kentut juga mereka alami. Dan semacam ini (menertawakan kentut) termasuk adat kebanyakan masyarakat." (Syarh Riyadhus Sholihin, 3/120).

Kemudian Imam Ibnu Utsaimin juga menyebutkan satu kaidah, Ini merupakan isyarat bahwa tidak sepantasnya bagi manusia untuk mencela orang lain dengan sesuatu yang kita juga biasa mengalaminya. Maroji’: Syarh Riyadlush Sholihin, (Syarh Riyadhus Sholihin, 3/120).

3. Kentut termasuk pembatal wudhu’ dan sholat seseorang

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Shalat seseorang yang berhadats tidak akan diterima sampai ia berwudhu.” Lalu ada orang dari Hadhramaut mengatakan, “Apa yang dimaksud hadats, wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah pun menjawab,

فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ


“Di antaranya adalah kentut tanpa suara atau kentut dengan suara.” (HR. Bukhari: 135).

Para ulama pun sepakat bahwa kentut termasuk pembatal wudhu. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/128).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberi fatwa kepada seseorang yang ragu apakah dia kentut dalam shalat ataukah tidak, “Jangan dia memutuskan shalatnya sampai dia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Zaid).

---

Dinukil dari materi KHI (Kalender Hijriyah Istimewa)

Referensi:
  1. Mukhtashar Al-Fiqh Al-Islami fi Dhau' Al-Qur'an wa As-Sunah, Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-Tuwaijiri, Darul Ashda' Al-Mujtama', Al-Mamlakah Al-Arabiyah As-Su'udiyyah, cet. ke-11 (2010 M/1431 H).
  2. Minhajul Muslim, Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Darussalam.
  3. Syarh Riyadhush-Shalihin, Muhammad bin Shalih Al-Ustaimin, Madarul Wathan Lin-Nasyr, Riyadh, cet. tahun 1426 H.
  4. Rumaysho.Com
  5. KonsultasiSyari’ah : Do’a Ketika Menguap
  6. Konsultasi Syari’ah : Larangan Menertawakan Kentut
  7. Konsultasi Syari’ah : Sendawa ketika Shalat
  8. Muslim.Or.Id
  9. Al-Atsariyyah.Com
  10. Berbagaihal.Com
  11. Hukum dan Adab Menguap Ketika Shalat
  12. Wikipedia: Kuap/Menguap
  13. Wikipedia: Flatulensi

Bercanda Sesuai Syari'at

1/13/2013 Add Comment
Bercanda Sesuai Syari'at
Sumber gambar

Siapakah yang tidak suka bercanda? Hampir semua orang suka. Rasulullah pun juga demikian. Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu pun menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Wahai, Rasullullah! Apakah engkau juga bersendau gurau bersama kami?" Maka Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjawab dengan sabdanya, "Betul, hanya saja aku selalu berkata benar." (HR.Ahmad).

Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan ketika bercanda.

1. Luruskan tujuan

Yaitu bercanda untuk menghilangkan kepenatan, rasa bosan dan lesu, serta menyegarkan suasana dengan canda yang dibolehkan. Sehingga kita bisa memperoleh semangat baru dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat.

2. Jangan melewati batas

Sebagian orang sering berlebihan dalam bercanda hingga melanggar norma-norma. Terlalu banyak bercanda akan menjatuhkan wibawa seseorang.

3. Kenali lawan canda

Terkadang ada orang yang bercanda dengan seseorang yang tidak suka bercanda, atau tidak suka dengan canda orang tersebut. Hal itu akan menimbulkan akibat buruk. Oleh karena itu, lihatlah dengan siapa kita hendak bercanda.

4. Berdusta dalam bercanda

Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Celakalah seseorang yang berbicara dusta untuk membuat orang tertawa, celakalah ia, celakalah ia." (HR.Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi).

5. Jauhi kata-kata buruk, fitnah, dan jorok

6. Jangan berlebihan tertawa

Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah mengingatkan agar tidak banyak tertawa, "Janganlah kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati." (HR. Ibnu Majah).

7. Jangan melecehkan materi dakwah atau simbol-simbol agama

Semoga setiap kata, perbuatan, tingkah laku dan akhlak kita mendapatkan ridha dari Allah, pun dalam masalah bercanda. Kita senantiasa memohon taufik dari Allah agar termasuk ke dalam golongan orang-orang yang wajahnya tidak dipalingkan saat di kubur nanti karena mengikuti sunnah Nabi-Nya.

---

Dinukil dari: www.percikaniman.org

Adab Menuntut Ilmu

Anonim 1/06/2013 Add Comment
Adab Menuntut Ilmu

Hakikat ilmu bukanlah sekadar pengetahuan atau kepandaian yang dapat dipakai untuk memperoleh sesuatu, tetapi merupakan cahaya (nuur) yang dapat menerangi jiwa untuk berbuat dan bertingkah laku yang baik. Dari sini tidak terdapat perbedaan antara "ilmu agama" dengan "ilmu umum". Mencari ilmu bertujuan untuk semakin taqwa atau khasyyah kepada Allah.

Agar berhasil dalam menuntut ilmu, seorang Muslim harus mempunyai sifat atau etika: ikhlas, senantiasa berdo`a, bersungguh-sungguh, menjauhi kemaksiatan, tidak malu dan tidak sombong, serta mengamalkan dan menyebarkan ilmu. Berikut ini beberapa adab menuntut ilmu menurut syari'at Islam:

1. Mengikhlaskan niat hanya untuk Allah Ta’ala

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya hanya mengharap wajah Allah, tetapi ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapat bagian dari kehidupan dunia, maka ia tidak akan mendapat bau surga di hari kiamat kelak.” (HR. Ibnu Majah: 252, Shahih Ibnu Majah: 248).

2. Mengamalkan ilmu yang telah dipelajari dan mendakwahkannya

Amal adalah buah dari ilmu. Ilmu bisa menjadi hujjah yang membela pemiliknya atau sebaliknya menjadi hujjah yang menjatuhkannya. Menjadi hujjah yang membela pemiliknya jika ia mengamalkannya, dan menjadi hujjah yang menjatuhkannya jika ia tidak mengamalkannya. Nabi bersabda: “Dan Al-Qur’an bisa menjadi hujjah bagimu atau justru ia akan menghujatmu.” (HR. Muslim: 223).

3. Bersemangat dalam memahami maksud Allah dan Rasul-Nya

Hal ini sangat penting karena banyak orang yang telah menghafal Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi tetapi tidak mampu memahami maksudnya. Bahkan seringkali dipahami dengan pemahaman yang berbeda dengan maksud Allah dan Rasul-Nya maka tersesatlah dia. Perlu diketahui bahwa kesalahan dalam pemahaman terkadang lebih berbahaya daripada kesalahan karena tidak tahu.

4. Bersikap hikmah dalam segala hal

Hikmah ialah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Hendaknya penuntut ilmu menghiasi dirinya dengan sifat ini, terutama dalam berdakwah. Hendaknya ia menghiasi akhlaknya dengan sifat hikmah, dan mengajak manusia kepada agama Allah dengan cara-cara dakwah yang cocok dengan kondisi mereka masing-masing, agar mereka lebih mudah menerima.

5. Memuliakan ulama dan menghormati kedudukannya

6. Berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta memahaminya dengan pemahaman Salafush Shalih

7. Menempuh manhaj Salafush Shalih dengan sungguh-sungguh

8. Teliti dalam menukil dan memahami sebuah dalil, serta kokoh dalam keilmuan

Di antara hal penting yang harus diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu ialah, teliti dalam menukil sebuah dalil, shahih ataukah tidak. Ia juga harus teliti dalam memahami dalil tersebut, apakah menunjukkan wajib, sunnah, haram, makruh, atau mubah.

Selain itu, ia juga harus kokoh dalam mempelajari dan memahami sesuatu. Jangan suka berpindah dari satu kitab ke kitab yang lain sebelum benar-benar menguasainya, karena hal itu akan banyak menghabiskan waktu dengan hasil yang tidak maksimal.

9. Saling toleransi terhadap perbedaan pendapat para ulama

Hendaklah berlapang dada dan toleransi dalam menyikapi perbedaan para ulama (dalam masalah yang dibolehkan ada perbedaan padanya). Seperti meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di atas dada saat bangkit dari rukuk (i’tidal), ada ulama yang memahaminya haram, ada pula yang memahami sunnah. Maka dalam masalah seperti ini kita boleh memilih satu pendapat tapi tidak boleh mencela pendapat yang lain.

---

Dinukil dari materi KHI (Kalender Hijriyah Istimewa)

Referensi:
  1. Mukhtashar Al-Fiqh Al-Islami fi Dhau' Al-Qur'an wa As-Sunah, Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-Tuwaijiri, Darul Ashda' Al-Mujtama', Al-Mamlakah Al-Arabiyah As-Su'udiyyah, cet. ke-11 (2010 M/1431 H).
  2. Minhajul Muslim, Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Darussalam.
  3. Syarh Riyadhush-Shalihin, Muhammad bin Shalih Al-Ustaimin, Madarul Wathan Lin-Nasyr, Riyadh, cet. tahun 1426 H. 
  4. Dan lain-lain.

Adab Menjenguk Orang Sakit

Anonim 12/30/2012 Add Comment
Adab Menjenguk Orang Sakit

Menjenguk orang sakit merupakan salah satu kewajiban mukmin satu terhadap mukmin yang lainnya. Namun, sebelum anda pergi menjenguk saudara Anda sesama muslim, maka perlu memperhatikan beberapa adabnya. Lalu bagaimanakah adab menjenguk orang sakit menurut syari'at Islam?

1. Hendaklah menjeguk dengan niat menjalankan perintah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam agar bernilai pahala

2. Mengetuk pintu hati dengan nasihat

Gunakanlah kesempatan menjenguk tersebut untuk memberikan nasihat kepada si sakit tentang hal-hal yang bermanfaat baginya. Seperti bertaubat, menyelesaikan hak-hak yang belum dipenuhinya, dan yang lainnya. 

3. Ingatkan si sakit agar senantiasa mengingat Allah dalam segala kondisi

Ingatkan dia agar memperbanyak dzikir dan istighfar, serta tetap menjaga shalat lima waktu. Dan bisa jadi si sakit belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang tata cara thaharah, shalat atau ibadah yang lain dalam kondisi sakit. Maka bila penjenguk punya ilmu tentang hal itu, hendaklah ia mengajarkan kepada si sakit.

4. Perhatikan kondisi si sakit

Hendaklah penjenguk melihat mana yang lebih bermanfaat bagi si sakit, apakah lama berada di sisi si sakit atau cukup sebentar saja. Bila ia melihat si sakit merasa senang dan terhibur dengan keberadaannya di sisinya, maka hendaklah ia menahan diri untuk lebih lama bersama si sakit. Namun bila sebaliknya, maka hendaklah ia tidak berlama-lama di tempat tersebut.

5. Penjenguk dianjurkan duduk di samping kepala orang yang sakit

Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam hadits Ibnu Abbas Radhiallahu 'Anhu ia berkata: "Apabila Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjenguk orang sakit, beliau duduk di samping kepalanya." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad: 536, Shahih Al-Adabul Mufrad: 219).

6. Do'akanlah si sakit

Di antara do’a yang dituntunkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ialah:

- أَسْأَلُ اللهَ الْعَظِيْمَ، رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، أَنْ يَشْفِيَكَ


"Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Rabb pemilik Arsy Yang Agung, agar Dia menyembuhkanmu."

Rasulullah mengatakan bahwa jika seseorang membaca do’a ini sebanyak 7 kali untuk orang yang sakit, niscaya sakitnya akan sembuh, Insya Allah. (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad: 536, Shahih al-Adabul Mufrad: 219).

- لَا بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ


"Tidak mengapa, (sakit itu) akan mensucikan (dari dosa) Insya Allah." (HR. Al-Bukhari: 5338).

---

Dinukil dari materi KHI (Kalender Hijriyah Istimewa)

Referensi:
  1. Mukhtashar Al-Fiqh Al-Islami fi Dhau' Al-Qur'an wa As-Sunah, Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-Tuwaijiri, Darul Ashda' Al-Mujtama', Al-Mamlakah Al-Arabiyah As-Su'udiyyah, cet. ke-11 (2010 M/1431 H).
  2. Minhajul Muslim, Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Darussalam. 
  3. Syarh Riyadhush-Shalihin, Muhammad bin Shalih Al-Ustaimin, Madarul Wathan Lin-Nasyr, Riyadh, cet. tahun 1426 H. 
  4. Dan lain-lain.

Adab Kepada Tetangga

Anonim 12/23/2012 Add Comment
Adab Kepada Tetangga

Di dalam ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Rasulullah telah mengajarkan bahwa seorang muslim mengakui adanya hak-hak dan adab-adab kepada tetangga. Kedua pihak yang bertetangga diwajibkan memberikan dan memenuhinya secara sempurna, demi terjalinnya kemaslahatan dan kerukunan dalam hidup bermasyarakat. Karena pada hakikatnya, kerukunan dalam masyarakat ini akan terjalin apabila setiap orang dalam keluarga saling memenuhi atas hak-hak tetangganya. Lalu bagaimanakah adab kepada tetangga menurut syari'at Islam?

1. Tidak mengganggu atau menyakiti tetangga, baik dengan perkataan maupun perbuatan

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan tegas memperingatkan : "Tidak akan masuk surga (yaitu) orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya." (HR. Muslim: 46).

2. Berbuat jelek kepada tetangga dosanya jauh lebih besar daripada kepada selainnya

Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: "Sungguh, seorang lelaki berzina dengan sepuluh wanita itu lebih ringan (dosanya) daripada ia berzina dengan istri tetangganya." (HR. Ahmad: 23905, As-Silsilah Ash-Shahihah: 65).

3. Memperbanyak kuah ketika memasak lalu memberikan sebagiannya kepada tetangga

Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Abu Dzar Radhiallahu ‘Anhu: "Wahai Abu Dzar, apabila engkau memasak, perbanyaklah kuahnya kemudian undanglah tetanggamu (untuk makan bersama) atau bagikan (sebagiannya) kepada mereka." (HR. Muslim: 2625, Ahmad: 21364). 

4. Mendahulukan tetangga yang paling dekat pintunya dalam memberi sesuatu 

‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha berkata: Saya berkata: "'Wahai Rasulullah, saya memiliki dua tetangga. Siapakah di antara mereka yang lebih berhak aku hadiahi?' Beliau menjawab, 'Tetangga yang paling dekat pintu rumahnya denganmu.'" (HR. Al-Bukhari: 2140).

5. Ancaman bagi orang yang pelit kepada tetangganya 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan: "Betapa banyak tetangga yang akan memegang tangan tetangganya di hari kiamat sambil berkata, ‘Wahai Rabb-ku, orang ini menutup pintunya dariku dan dia enggan memberi apa yang ia miliki.'" (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad: 111, Shahih Al-Adabul Mufrad: 81). 

6. Tidak selayaknya seorang mukmin merasa kenyang sementara tetangganya kelaparan

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengingatkan: "Bukanlah ciri seorang mukmin (yaitu) jika ia merasa kenyang sementara (ia tahu) tengganya kelaparan." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad: 112, Shahih Al-Adabul Mufrad: 82).

---

Dinukil dari materi KHI (Kalender Hijriyah Istimewa)

Referensi:
  1. Mukhtashar Al-Fiqh Al-Islami fi Dhau' Al-Qur'an wa As-Sunah, Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-Tuwaijiri, Darul Ashda' Al-Mujtama', Al-Mamlakah Al-Arabiyah As-Su'udiyyah, cet. ke-11 (2010 M/1431 H). 
  2. Minhajul Muslim, Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Darussalam. 
  3. Syarh Riyadhush-Shalihin, Muhammad bin Shalih Al-Ustaimin, Madarul Wathan Lin-Nasyr, Riyadh, cet. tahun 1426 H. 
  4. Dan lain-lain.

Adab Kepada Orang Tua

Anonim 12/16/2012 Add Comment
Adab Kepada Orang Tua

Sebagai seorang anak, sudah seharusnya kita berbakti kepada kedua orang tua. Jika kita lihat jasa-jasa yang telah diberikan orang tua kepada kita, tentunya kita tidak akan dapat membalas kebaikan yang telah mereka berikan. Mereka dengan ikhlas merawat kita hingga kita tumbuh dewasa, mereka tidak mengharapkan imbalan apapun kecuali agar anaknya dapat sehat dan menjadi anak yang shaleh. Sampai kapanpun seorang anak tidak akan dapat membalas budi orang tua. Kewajiban berbakti kepada orang tua tidak semata-mata karena jasa yang telah mereka berikan, melainkan juga perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Lalu bagaimanakah adab kepada orang tua menurut syari'at Islam?

1. Menaati semua perintahnya selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Dan Kami wajibkan kepada manusia untuk (berbuat) baik kepada kedua orang tuanya. Namun jika keduanya memaksamu untuk (berbuat syirik) mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu menaatinya." (QS. Al-Ankabut: 8).

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak boleh taat dalam kemaksiatan. Taat itu hanya boleh dalam kebaikan." (HR. Al-Bukhari: 6830).

2. Bertutur kata lemah lembut kepada orang tua, terutama ketika mereka sudah lanjut usia

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra': 23)*.

(*). Mengucapkan kata 'ah' kepada orang tua tidak dibolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.

3. Tetap berbuat baik kepada orang tua meskipun mereka kafir selama tidak memerangi Islam

Asma binti Abu Bakr Ash-Shiddiq Radhiallahu 'Anha, ketika ibunya masih dalam keadaan musyrik dan akan berkunjung kepadanya, ia meminta fatwa kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam apakah boleh ia menyambung tali silaturahmi dengan ibunya? Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjawab: "Ya, sambunglah silaturahmi dengan ibumu." (HR. Al-Bukhari: 2477).

4. Berbuat baik dan merendahkan diri di hadapan orang tua

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (QS. Al-Isra': 24).

5. Mencurahkan bakti kepada ibu lebih besar daripada kepada ayah

Seorang lelaki pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam: "'Wahai Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, siapakah yang paling berhak mendapat perlakuan baik dariku?'. Beliau menjawab, 'Ibumu.' Lelaki itu bertanya lagi, 'Kemudian siapa lagi?'. Beliau kembali menjawab, 'Ibumu.' Lelaki itu kembali bertanya, 'Kemudian siapa lagi?'. Beliau menjawab, 'Ibumu.' 'Lalu siapa lagi?', tanyanya. 'Ayahmu,' jawab Beliau." (HR. Al-Bukhari: 5626 dan Muslim: 2548).

6. Tidak mencaci-maki orang tua orang lain sehingga ia mencaci-maki orang tua kita

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "'Di antara dosa besar yang paling besar adalah seorang mencaci-maki orang tuanya.' Para sahabat bertanya, 'Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin seseorang mencaci-maki orang tuanya?'. Beliau menjawab, 'Begini. Ia mencaci-maki ayah orang lain kemudian orang tersebut membalas mencaci-maki ayahnya. Dan ia mencaci-maki ibu orang lain lalu orang itu membalas mencaci-maki ibunya.'" (HR. Al-Bukhari: 5628).

7. Berbuat baik kepada orang-orang yang berbuat baik kepada orang tua kita

---

Dinukil dari materi KHI (Kalender Hijriyah Istimewa)

Referensi:
  1. Mukhtashar Al-Fiqh Al-Islami fi Dhau' Al-Qur'an wa As-Sunah, Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-Tuwaijiri, Darul Ashda' Al-Mujtama', Al-Mamlakah Al-Arabiyah As-Su'udiyyah, cet. ke-11 (2010 M/1431 H). 
  2. Minhajul Muslim, Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Darussalam. 
  3. Syarh Riyadhush-Shalihin, Muhammad bin Shalih Al-Ustaimin, Madarul Wathan Lin-Nasyr, Riyadh, cet. tahun 1426 H. 
  4. Dan lain-lain.

Adab-Adab Bepergian (Safar) Bag. II

Anonim 12/09/2012 Add Comment

Adab-Adab Bepergian (Safar) Bag. II

8. Do'a untuk orang yang akan bepergian

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah mendo'akan orang yang akan bepergian: 

أَسْتَوْدَعُ اللهَ لِدِيْنِك وَأَمَانَتِك وَخَوَاتِيْمِ عَمَلِك


"Saya titipkan agamamu, amanahmu dan akhir dari amalmu kepada Allah." (HR. At-Tirmidzi: 3443, Shahih At-Tirmidzi: 2738).

9. Hendaklah orang yang bersafar ketika meninggalkan rumahnya berdo’a

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا بِاللَّه


(Bismillahi tawwakaltu ‘alallahi, laa hawla wa laa quwwata illa billaah) "Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, dan tidak ada daya dan upaya kecuali dengan izin Allah."

اللَّهمَّ إني أعوذ بك أَن أَضِلَّ أو أُضَلَّ ، أَو أَزِلَّ أو أُزَلَّ ، أو أَجهَلَ أو يُجهَلَ عليَّ


(Allahumma inni ‘audzubika, an adhilla au adhall, au azilla au azill, au jahala au yujahala ‘aliyy) “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu, jangan sampai aku sesat atau disesatkan (syaithan atau orang yang berwatak syaithan), atau tergelincir dan digelincirkan (orang lain), atau dari berbuat bodoh atau dibodohi.” (Shahih, di shahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam kitabnya Shahih Abi Dawud: 5094). 

10. Dilarang bagi wanita safar tanpa ada mahram

Syariat yang suci melarang seorang wanita safar sendirian tanpa ditemani mahram. Bukhari dan Muslim serta selain keduanya meriwayatkan bahwa Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bersafar dalam jarak sehari semalam tanpa didampingi mahram.” Dalam lafazh Muslim: “Tidak halal bagi wanita Muslimah untuk safar dalam jarak semalam kecuali bersamanya seorang laki-laki yang merupakan mahramnya.” (HR. Bukhari).

11. Mengucapkan Allahu Akbar ketika jalan menanjak, dan Subhanallah ketika jalan menurun

Berdasarkan hadist dari Ibnu Umar Radhiallahu 'Anhu  ia berkata: “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan bala tentaranya, bila berjalan menaiki bukit mereka bertakbir, dan bila melewati jalan menurun mereka bertasbih.” (HR. Abu Dawud: 2599, Shahih Abi Dawud: 2339).

12. Berdo’a saat singgah di suatu tempat

Sebagaimana hadist dari Khaulah binti Hakim Radhiallahu 'Anha,  dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa singgah di suatu tempat lalu mengucapkan:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ


"(Aku berlindung dengan kalam Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya) Niscaya dia tidak akan terkena gangguan apapun hingga meninggalkan tempat tersebut.” (HR. Muslim: 2708).

13. Segera pulang bila urusan selesai

Berdasarkan hadist dari Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu, beliau berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Safar (perjalanan jauh) adalah bagian dari adzab yang menahan kalian dari makan, minum dan tidur. Apabila urusan kalian telah selesai, segeralah kembali kepada keluarga kalian.” (HR. Al-Bukhari: 1710).

---

Dinukil dari materi KHI (Kalender Hijriyah Istimewa)

Referensi:
  1. Mukhtashar Al-Fiqh Al-Islami fi Dhau' Al-Qur'an wa As-Sunah, Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-Tuwaijiri, Darul Ashda' Al-Mujtama', Al-Mamlakah Al-Arabiyah As-Su'udiyyah, cet. ke-11 (2010 M/1431 H). 
  2. Minhajul Muslim, Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Darussalam. 
  3. Syarh Riyadhush-Shalihin, Muhammad bin Shalih Al-Ustaimin, Madarul Wathan Lin-Nasyr, Riyadh, cet. tahun 1426 H. 
  4. Dan lain-lain.

Adab-Adab Bepergian (Safar) Bag. I

Anonim 12/02/2012 Add Comment
Adab-Adab Bepergian (Safar) Bag. I

Setiap orang pasti adakalnya meninggalkan rumah, bahkan mungkin hampir setiap hari kita meninggalkan rumah, baik untuk bekerja ataupun belajar mencari ilmu. Dengan makin mudahnya sarana dan alat transportasi saat ini bukanlah berarti kita melalaikan adab-adab yang ada, apalagi yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits.

Di zaman yang serba canggih seperti sekarang siapapun bisa menempuh perjalanan terjauh di dunia hanya dengan hitungan hari atau jam. Namun, seiring dengan kemudahan yang dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada kita, tidaklah lantas membuat kita mengabaikan adab-adab safar (bepergian) yang telah dituntunkan oleh syari'at Islam. Lalu bagaimanakah adab ketika bersafar menurut syari'at Islam?

1. Berpamitan terlebih dahulu

Disunnahkan bagi orang yang hendak bepergian untuk berpamitan kepada keluarga, kerabat dan saudara-saudara yang akan ditinggalkannya. Berpamitan sebelum menjalankan safar, sering menjadi sebuah sunnah yang terabaikan. Sangat sedikit orang yang mengamalkannya, yakni seorang musafir berpamitan dengan mengucapkan doa seperti yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ajarkan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Qaz`ah, dia berkata: Ibnu Umar berkata kepadaku: “Kemarilah, saya akan berpamitan kepada engkau sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpamitan kepadaku, yaitu beliau mengucapkan doa:

أَسْتَوْدِعُكُمُ اللهَ الَّذِيْ لاَ تَضِيْعُ وَدَائِعُهُ


“Aku menitipkan kamu kepada Allah yang tidak akan hilang titipan-Nya.” (HR. Ibnu Majah: 2825, Shahih Ibnu Majah: 2815).

Berkata Imam Ibnu Abdil Barr Rahimahullah: “Jika salah seorang dari kalian keluar bersafar maka hendaklah ia berpamitan kepada saudaranya, karena Allah Subhanahu wa Ta`ala menjadikan pada doa mereka berkah.”

2. Dianjurkan bepergian pada hari Kamis

Hal ini berdasarkan hadist dari Ka'ab bin Malik Radhiallahu 'Anhu dari bapaknya berkata: “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar menuju Perang Tabuk pada hari Kamis, dan beliau suka keluar pada hari Kamis.” (HR. Al-Bukhari: 2790).

Dan dalam lafal yang lain: “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat jarang bepergian pada selain hari Kamis.” (HR. Al-Bukhari: 2789).

3. Sebaiknya tidak sendirian saat bepergian

Terdapat hadits dari Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bersabda: “Seandainya manusia tahu apa yang aku ketahui tentang kesendirian (dalam bepergian), niscaya tidak akan ada seorangpun yang menaiki kendaraan sendiri di malam hari.” (HR. Al-Bukhari: 2836).

Larangan safar sendirian juga terdapat dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash Radhiallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, berkata: ”Yang bersafar sendirian maka temannya adalah syaithan, dan yang bersafar hanya berdua maka temannya adalah syaithan, dan yang bersafar bertiga maka dia yang dinamakan bersafar.” (HR. Abu Dawud, dihasankan oleh Al-Albani Rahimahullah).

4. Sebaiknya lakukan perjalanan pada malam hari

Berdasarkan hadist dari Anas Radhiallahu 'Anhu beliau berkata bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: “Lakukanlah perjalanan di malam hari, karena sesungguhnya jarak bumi dipersempit ketika malam hari.” (HR. Abu Dawud: 2571).

5. Menunjuk pemimpin safar

Bila tiga orang atau lebih bepergian bersama, tunjuklah salah satunya untuk menjadi pemimpin selama perjalanan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam: “Apabila tiga orang atau lebih akan bepergian jauh, hendaknya salah seorang dari mereka diangkat sebagai pemimpin.” (HR. Abu Dawud: 2608, As-Silsilah Ash-Shahihah: 1322).

6. Bila dua orang bepergian bersama, jangan mudah berselisih pendapat

Dari Sa'id bin Abu Burdah Radhiallahu 'Anhu dari bapaknya dari kakeknya berkata: Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengutus Mu'adz Radhiallahu 'Anhu dan Abu Musa Al-'Asy'ari Radhiallahu 'Anhu pergi ke Yaman, lalu berpesan kepada mereka: "Permudahlah dan jangan mempersulit, berikanlah kabar gembira dan jangan menakut-nakuti, bersatulah dan jangan berselisih." (HR. Al-Bukhari: 2873 dan Muslim: 1733).

7. Dilarang membawa anjing dan lonceng ketika safar

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang membawa anjing dan lonceng dalam safar. Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Malaikat tidak akan menemani safar seseorang yang ditemani anjing dan membawa lonceng/alat musik.” (HR. Muslim).

Sebab dilarangnya lonceng karena itu merupakan terompet syaithan. Dalam hal ini terdapat jelas dalam riwayat Muslim dan selainnya dari hadits Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu  beliau berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Terompet adalah merupakan seruling syaithan.” (HR. Muslim).

(bersambung...)