Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Hijrah Cintaku

9/09/2014 Add Comment
Remash-smkn1batam.tk - Terhitung sudah 2 minggu lebih aku belum juga menanggapi satu pesan singkat darimu. Pesan singkat yang membuat hatiku begitu remuk dan hancur, pesan yang membuatku jatuh pada kesedihanku yang begitu dalam. hingga tak kusadari air mata ini menetes deras membasahi sekeliling kacamataku.
Kucoba untuk kembali mengingat saat itu, saat – saat dimana kita saling bersama, saat – saat dimana kita bersahabat dengan baik, saat – saat dimana hati ini terus tersenyum bahagia karena ada dirimu yang selalu menjadi penyemangatku tiap harinya. Saat – saat dimana kita sering membahas organisasi yang sedang kita perjuangkan saat ini. Yaa, organisasi yang membuat kita sering bertemu selain di ruang kelas. Organisasi yang membuat kita paham dan mendapatkan banyak ilmu tentang agama Allah. Organisasi yang menjadi jalan dakwah kita saat ini.
Saat – saat dimana aku dan dirimu tidak terlalu memikirkan perasaan di dalam hati ini. Yaa aku merasakannya meskipun tidak terlalu aku pikirkan, perasaan yang tiba – tiba saja muncul setelah cukup lama kita saling mengenal dekat. Perasaan yang tak mampu ku pendam di dalam hatiku, yaa tanpa kusadari ternyata aku menaruh hati padamu. hingga akhirnya perasaan ini terungkap begitu saja di waktu yang tidak tepat.
Dan aku pun merasakan suatu perubahan , perubahan dari sikapmu yang seolah sedikit menjauh dariku. Engkau yang dulu begitu dekat denganku seolah pergi dan menganggapku seperti teman biasa hanya karena aku mengungkapkan perasaan ini padamu. Kini tiada lagi masa – masa itu. Masa – masa dimana aku dan dirimu bercanda bersama, masa – masa dimana kita saling membantu dalam mengerjakan tugas – tugas sekolah, masa – masa dimana kita sering membahas tentang organisasi yang sedang kita perjuangkan bersama teman – teman yang lain. Aku merasa semua kenangan kita seolah hilang begitu saja dan meninggalkan rasa yang sangat perih di hati ini. Terkadang terlintas pertanyaan di fikiranku apa yang menjadi sebab engkau menjauh dariku, apakah engkau memiliki perasaan yang sama sepertiku? atau justru engkau memang tak memiliki perasaan apapun kepadaku? hingga membuatmu pergi dan menjauh dariku.Yaa, pertanyaan ini pun belum terjawab sampai sekarang.
Tidak kah kau tahu apa yang aku rasakan saat ini? Tidak kah kau merasakan apa yang aku rasakan saat ini? Tidak kah kau mengerti betapa hancurnya perasaanku saat ini. Aku heran dengan perasaanku saat ini, aku merasakan perasaan ini berubah terus tumbuh dan semakin besar disaat aku begitu jauh darimu. Jujur, Sakit sekali hati ini melihatmu bercanda gurau bersama sahabat – sahabatmu yang lain. Yaa aku sering memperhatikan hal itu dari kejauhan. sementara aku, aku merasa seolah begitu jauh darimu, aku merasa segan untuk berbicara denganmu bahkan untuk sekedar menyapa mulut ini seolah tak mampu untuk mengucapkan sepatah kata pun.
Aku tau engkau seorang wanita soleha yang begitu taat kepadaNYA. aku juga tau engkau memegang teguh pada prinsip tidak akan melakukan hubungan yang tidak syar’i (khalwat dan pacaran) dengan org yang bukan mahrammu karena memang Allah s.w.t melarang keras perbuatan itu. Sementara aku, aku sadar diriku hanyalah seorang yang baru saja mengetahui islam lebih jauh, dan bahkan aku masih sering melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Wajar sekali jika memang engkau tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Terlintas difikiranku apakah karena ini engkau menjauh dariku? Apakah engkau memang benar – benar menjauh atas dasar ketaatan kepada Allah? Pertanyaan – pertanyaan yang sampai saat ini belum juga terjawab.


Sungguh saat ini aku berada pada kesedihan yang begitu mendalam, perasaan ini membuatku seolah jatuh pada jurang yang sangat dalam. Perasaan yang aku sendiri tidak bisa menerjemahkannya, mungkinkah ini cinta?  Mungkinkah ini cinta atas dasar cinta kepada Allah? Atau mungkin ini hanya sebuah perasaan atas nafsu belaka?
tidak kusadari perasaan ini terus tumbuh semakin besar dan semakin dalam di saat - saat engkau jauh dariku. perasaan ini berubah membuatku seolah semakin termotivasi untuk terus menggali ilmu islamku yang masih sangat sedikit, perasaan yang membuatku semakin bersemangat untuk beribadah jauh lebih rajin dibanding saat aku baru mempelajari islam saat itu.
Dan kembali kepada pesan singkat itu, seolah semuanya meyakinkan atas jawaban yang selama ini masih samar – samar aku rasakan, pesan yang membuatku sampai meneteskan airmataku, pesan yang membuatku begitu kagum akan dirimu.
                Sekarang aku sadar, aku bukanlah orang yang pantas untuk mencintaimu, dengan segala kekurangan yang ku punya tak mungkin bagiku untuk mencintai orang yang begitu taat sepertimu. Kini, aku sadar bahwa apa yang ku lakukan selama ini salah, aku lupa bahwa selama ini aku lebih mencintaimu dari pada mencintaiNYA, Aku lupa untuk terus memantaskan diri buat dia yang nantinya akan hadir dikehidupanku, buat dia yang telah ditakdirkan oleh-NYA untukku. Sekarang aku sadar, yang harus kulakukan adalah menyimpan kembali semua perasaan ini jauh ke lubuk hatiku yang paling dalam. Mulai saat ini aku harus fokuskan diriku berjuang untuk memperdalam ilmu islamku, menguatkan iman ku yang masih sangat rapuh, memperbanyak amal ibadahku untuk bekalku kelak, dan menjadi anak soleh yang bisa membanggakan kedua orangtuaku.
Saat ini dihatiku hanya tersisa harapan kecil untuk di pertemukan denganmu kelak. Harapan yang menjadi sebuah do’a yang akan terus kupanjatkan kepada-NYA. Harapan yang akan kujadikan motivasi untuk berubah menjadi lebih baik. Aku tau Takdir-NYA begitu indah, Skenario-NYA begitu sempurna. Jika bukan engkau, maka aku yakin pasti akan ada dia yang terbaik nantinya yang akan hadir dihidupku.
                Aku berjanji akan memberikan cintaku yang suci dan tulus untuk dia yang sangat aku cintai, untuk Dia yang telah digariskan oleh Allah untukku kelak,,,

---

Penulis : Rifqi Aditya Aji

Ismail Raji Al-Faruqi

8/17/2014 Add Comment

Biografi Ismail Raji Al-Faruqi

Ismail Raji Al-Faruqi lahir pada tanggal 1 Januari 1921 di Jaffa, Palestina. Ayahnya seorang qodi di Palestina. Pengalaman pendidikannya diawali dari pendidikan madrasah di desa kelahirannya (college des ferese), Libanon yang menggunakan bahasa prancis sebagai bahasa pengantarnya, predikat sarjana muda diperolehnya dari Amerika university, Bairut jurusan filsafat pada tahun 1941.

Ismail Raji Al-Faruqi  pernah menjadi pegawai negeri selama empat tahun di Palestina yang ketika itu masih dalam status mandat Inggris. Karir birokrasi Ismail Raji Al-Faruqi pernah mencapai jabatan sebagai gubenur di Galilela, Palestina pada usia 24 tahun. Namun jabatan ini tidak lama karena pada tahun 1947 propinsi tersebut jatuh ke tangan Israel, sehingga ia pindah ke Amerika serikat pada tahun 1948.

Pada tahun 1949 Ismail Raji Al-Faruqi melanjutkan studinya di Universitas Indian sampai meraih gelar master dalam bidang filsafat. Dua tahun kemudian ia meraih gelar master kedua dalam bidang yang sama dari Universitas Harvard. Pada tahun 1952 ia meraih gelar Ph. D dari Universitas Indian dengan disertasi berjudul “Tentang Pembenahan Tuhan: Metafisika dan Epistimologi Nilai”. Namun apa yang ia capai tidak memuaskan, karena itu ia kemudian pergi ke Mesir untuk lebih mendalam ilmu keislaman di Universitas Al-Azhar Kairo.

Ismail Raji Al-Faruqi mulai mengajar di Mcbill University, Kanada pada tahun 1959. Pada tahun 1961-1963 ia pindah ke Karachi Pakistan untuk ikut bagian dalam kegiatan Centeral Intitute For Islame Researh dan jurnalnya Islamic Studies. Tahun 1968 ia pindah ke Temple University Philadelpia sebagai guru besar agama dan mendirikan pusat kajian islam.

Hidup Ismail Raji Al-Faruqi berahir tragis setelah ia dan isterinya dibunuh pembunuh gelap di rumahnya di Philadelphia pada tanggal 27 Mei 1986. Beberapa penganut menduga bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh Zionis Yahudi karena proyek Ismail Raji Al-Faruqi yang demikian inten untuk kemajuan islam.

Konsep Pendidikan Ismail Raji Al-Faruqi

1. Pemikiran Ismail Raji Al-Faruqi tentang Pendidikan

Menurut Ismail Raji Al-Faruqi, ummat islam saat ini berada dalam keadaan yang lemah. Kemerosotan muslim dewasa ini telah menjadikan islam pada zaman kemunduran. Dikalangan kaum muslimin berkembang buta huruf, kebodohan dan tahayyul. Akibatnya, ummat islam awam lari pada keyakinan yang buta, bersandar pada literalisme dan legalisme, atau menyerahkan diri kepada syaikh (pemimpin) mereka. Dalam keadaan seperti ini masyarakat muslim melihat kemajuan barat sebagai sesuatu yang menganggumkan.

Kemajuan yang mereka capai hanya merupakan kemajuan yang semu, di satu pihak ummat islam telah berkenalan dengan peradaban barat modern, tetapi di pihak lain mereka kekhilangan pijakan yang kokoh, yaitu pedoman hidup yang bersumber dari moral agama. Oleh karena itu, ummat islam terkesan mengambil sikap mendua, antara tradisi keislaman dan nilai-nilai peradaban barat modern. Pandangan dualisme yang demikian ini menjadi penyebab dari kemunduran yang dialami ummat islam, bahkan sudah mencapai tingkat serius dan mengkhwatirkan yang disebut sebagai “Malaisme”.

Menurut Ismail Raji Al-Faruqi sebagai efek dari “Malaisme” yang dihadapi ummat islam sebagai bahasa anak tangga terbawah, mengakibatkan tibulnya dualisme dalam pendidikan islam dan kehidupan ummat. Sebagai prasyarat untuk menghilangkan dualisme tersebut dan sekaligus mencari jalan keluar dari “Malaisme” maka pengetahuan harus diislamisasikan atau diadakan asimilasi pengetahuan agar serasi dengan ajaran tauhid dan ajaran islam.

Tauhid menurut Ismail Raji Al-Faruqi dianggap sebagai esensi pengalaman agama seorang muslim dan bahkan identik dengan pandagan filsafat penciptaan manusia, oleh karenanya tauhid menurut kayakinan Ismail Raji Al-Faruqi bersifat alamiah Ismail Raji Al-Faruqi berusaha menjadikan tauhid sebagai penggiring atas upaya praktis dalam proses islamisasi ilmu pengetahuan, ia juga berusaha menerjemahkan nilai-nilai qur’ani yang selalu relevan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman.

Perceraian sains dari nilai theologis memberikan implikasi negatif. Pertama dalam aplikasinya sains modern melihat alam beserta hukum dan polanya, kedua, secara metodologis, sains modern tidak terkecuali ilmu sosial, tidak bisa diterapkan untuk memahami realitas sosial masyarakat muslim yang mempunyai pandangan hidup berbeda dari barat.

Oleh karena itu, menurut Ismail Raji Al-Faruqi persoalan persoalan yang cukup berkelindan  hanya bisa diselesaikan bila sistem pendidikan islam kembali pada roh nilai-nilai ilahiyah sebagai sistem moral dan sistem kepribadian pendidikan islam yang mengacu pada nilai tauhid. Melalui nilai tauhid, paling tidak ada dua aspek pemahaman yang bisa dikembangkan yaitu aspek natural (kehidupan kekinian) dan transendental (ketuhanan).

Konsep islamisasi ilmu pengetahuan yang dimaksud Ismail Raji Al-Faruqi adalah menuangkan kembali ilmu pengetahuan sebagaimana dikehendaki oleh islam, yaitu memberikan definisi baru, mengatur data, mengevaluasi kembali kesimpulan dan memproyeksikan kembali tujuan-tujuannya.

Untuk melandingkan gagasannya tentang islamisasi  ilmu, Ismail Raji Al-Faruqi meletakkan pondensi epistimologi pada prinsip tauhid yang terdiri dari 5 macam kesatuan yaitu:

1. Keesaan (kesatuan) Tuhan, implikasinya dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan, bahwa sebuah pengetahuan bukan untuk menerangkan dan memahami realitas, melebihkan melihatnya sebagai bagian yang integral dari eksistensi tuhan. Karena itu, islamisasi ilmu mengarahkan pengetahuan pada kondisi analisa dan sintesa tentang hubungan realitas yang dikaji dengan hukum Tuhan.

2. Kesatuan ciptaan, bahwa semesta ini baik yang materal psikis spasial (ruang), biologis maupun etnis adalah kesatuan yang integral. Dalam kaitannya dengan islamisasi ilmu, maka setiap penelitian dan usaha pengembangan keilmuan harus diarahkan sebagai refleksi dari keimanan dan realisasi ibadah kepadanya.

3. Kesatuan kebenaran dan pengetahuan, yang dirumuskan sebagai berikut: berdasarkan wahyu, tidak boleh membuat klaim yang produksi dengan realitas. Tidak adanya kontradiksi antara realitas dan wahyu, berarti tidak satupun kontradiksi antara realitas dan wahyu tidak terpecahkan. Pengamatan dan penyelidikan terhadap semesta dengan bagian-bagianya tidak pernah berahir karena pola Tuhan tidak terhingga.

4. Kesatuan hidup, menurut islam kehendak Tuhan terdiri atas dua macam yaitu: hubungan alam, dengan segala regualitasnya yang memungkinkan diteliti dan diamati. Dan hukum moral yang harus dipatuhi.

5. Kesatuan manusia, tata sosial islam menurut Ismail Raji Al-Faruqi adalah universal, mencakup seluruh ummat manusia tanpa terkecuali. Kaitanya dengan islamisasi ilmu, setiap perkembangan ilmu berdasar dan bertujuan untuk kepentingan kemanusiaan.

Islamisasi ilmu Ismail Raji Al-Faruqi dimaksudkan untuk memberikan respon positif terhadap realitas ilmu pengetahuan modern yang sekularistik dan islam yang terlalu religius dalam model pengetahuan baru yang utuh dan integral tanpa pemisahan, namun secara rinci tujuan yang dimaksud adalah:

a. Penguasaan disiplin ilmu modern
b. Penguasaan khazanah warisan islam
c. Membagun relevansi islam dengan dengan msaing-masing disiplin ilmu modern
d. Memadukan nilai-nilai dan khazanah warisan islam secara kreatif
e. Pengarahan aliran pemikiran islam ke jalan yang mencapai pemenuhan pola rencana Allah.

2. Pemikiran Ismail Raji Al-Faruqi tentang kurikulum

Memperbicangkan prinsip filosofis kurikulum pendidikan dikaitkan dengan gagasan islamisasi ilmu bagi kaum Ismail Raji Al-Faruqi sangat beralasan, karena kurikulum dalam sistem pendidikan merupakan sebuah komponen yang menentukan keberhasilan kualitas pendidikan.

Menurut pemikiran Ismail Raji Al-Faruqi mengenai reformasi kurikulum pendidikan akan dilihat dalam konteks tawaran pemikiran yang memiliki 3 tujuan rencana kerja islamisasi ilmu yang pernah digagasnya. Setidaknya ada 3 prinsip pengembangan kurikulum pendidikan islam, pertama, menguasai sains modern, kedua, menguasai warisan islam klasik, ketiga, prinsip kesatuan yang harus melingkupi seluruh kajian dalam kurikulum pendidikan islam.

Melihat pandangan Ismail Raji Al-Faruqi mengenai prinsip pengembangan kurikulum pendidikan islam, terlihat bahwa ia menginginkan bangunan ilmuan yang integral, terpadu dan saling melengkapi antar disiplin keislaman dan pengetahuan modern, menurut Moh. Shafiq, salah seorang murid Ismail Raji Al-Faruqi di Temple University ada enam tema besar yang mendasar dari pemikiran islamisasi ilmu yang dikemukukakan Ismail Raji Al-Faruqi selain Islamizing curricula diantaranya, pertama, paradigma islam terhadap ilmu pengetahuan, kedua, metodologi, ketiga, metodologi yang ada hubungannya dengan kajian Al-Qur’an, keempat, metodologi ada kaitanya dengan kajian sunnah, kelima, metodologi yang berkaitan dengan warisan klasik islam, keenam metodologi yang berhubugan dengan pemikiran barat kontemporer.

Kurikulum pendidikan kaum muslimin harus selalu mengarah kepada kepentingan mengembangkan sains modern dengan tetap disemangati dengan nilai tauhid sebagai konsep dasar dan aplikasi ilmiah. Konsekuensinya secara ekslusif adalah terjadi integrasi ilmu aqliyah dan naqliyah yang tingkatan kualitasnya merupakan pengaruh timbal balik antara keberhasilan rekonstruksi konsep ilmu dalam islam dengan rekontstruksi organisasi dan kurikulum.

Kontribusi Ismail Raji Al-Faruqi

Program islamisasi ilmu Ismail Raji Al-Faruqi yang menekankan perombakan total atas keilmuan sosial barat karena dianggap bersifat eosentris, rupanya lebih utuh, jelas dan terinci dibanding gagasan islamisasi ilmu yang dilontarkan pemikir lain.

Langkah islamisasi ilmu yang diberikan dan kritiknya terhadap realitas pendidikan islam juga merupakan sumbangan besar dan manfaat bagi perombakan sistem pendidikan islam.

Dalam bidang perbandingan agama. Kontribusi pemikiran Ismail Raji Al-Faruqi tidak kecil karyanya A. Historical atlas of religion of the world (Atlas historis agama dunia) oleh banyak kalangan dipandang sebagai buku standard dalam bidang tersebut, dalam karya-karya itulah, dia selalu memaparkan pemikiran ilmiahnya untuk mencapai saling pengertian antar ummat beragama dan pemahaman intelektual terhadap agama-agama lain. Baginya ilmu perbandingan agama berguna untuk membersihkan semua bentuk prasangka dan salah pengertian untuk membangun persahabatan antara sesama manusia.

Sebagai seorang pemikir, cedikiawan dan filosof, aktivitas ilmiahnya yang tinggi telah melahirkan sejumlah karya tulis. Beberapa karya penting Ismail Raji Al-Faruqi sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, karena perhatiannya atas dunia dan ummat islam, yang terpenting adalah pembelaan atas islam.


Pemikiran Ismail Raji Al-Faruqi tentang islamisasi pengetahuan mengilhami para cendikiawan di Indonesia. Tiga Universitas Islam, yaitu Universitas Ibn Kholdun Bogor, Universitas Islam Bandung, Universitas Islam As-Syafi’iyah, Jakarta,  dan Universitas Islam Bandung pernah menjalin kerja sama dalam membuat proyek islamisasi sains yang salah satu pengagasnya adalah Dr. A.M. Saefuddin.

Semoga perjuangan Ismail Raji Al-Faruqi dalam mendakwahkan islam diatas dapat menjadi motivasi tersendiri bagi kita untuk kemudian mendakwahkan islam pula.

---

Dinukil dari: berbagai sumber.

Ustad Felix Siauw

8/11/2014 Add Comment
Sumber Gambar
Remash-smkn1batam.tk Menjadi muslim sejati, merupakan cita-cita kita semua sebagai pribadi yang menghendaki ridha Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar kita menjadi umat terbaik di mata Allah. Namun, tak mudah jalan menuju pencapaian sebagai muslim sejati. Ada banyak rintangan yang harus dihadapi dalam mencari jati diri sebagai pribadi muslim yang sesungguhnya.

Hal ini pula yang dialami oleh seorang Ustad Felix Siauw. Ayah dari tiga anak ini mendapakan pengalaman hidup yang tak bisa dibilang mulus, namun semua itu membantu menguatkan dirinya dalam menjadi seorang muslim sejati.

Berikut adalah petikan wawancara Muzakki dengan Ustadz Felix Y. Siauw

Ustadz, bagaimana ceritanya bisa bertemu dengan Islam?

Awal mulanya ketika saya masih kelas 3 SMP, ketika saya beragama Katolik. Ketika itu saya banyak mendapatkan banyak hal yang tidak bersesuaian dengan akal, dan tak memuaskan akal. Sehingga singkat cerita saya keluar dari agama Katolik. Lalu saya mencari, agama mana yang benar, agama mana yang bagus. Setelah saya mencari selama lima tahun (sampai kuliah semester ketiga), alhamdulillah saya dapat Islam. Saya dapati Islam karena apa pun dalam Islam itu sesuai dengan akal manusia, sesuai dengan fitrah manusia, tidak ada yang bertentangan dengan akal manusia. Yang saya rasakan seperti itu.

Perubahannya jelas jauh. Karena akidah itu ibaratnya sebuah core dalam komputer, maka ketika seseorang berganti akidah, segalanya juga berubah. Yang paling nyata misalnya saya merasakan ketenangan luar biasa ketika saya memeluk agama Islam. Kita mendapatkan jawaban atas hidup, kita mendapatkan jabawan sebelum dan sesudah hidup. Dengan sendirinya kita bisa mantap menjalani hidup. Mau apa dalam hidup ini, kita sudah jelas.

Contoh konkretnya Islam memerintahan untuk tak boleh menguatkan suara lebih daripada suara orang tua. Ini kan perkara yang sangat luar biasa, yang kalau kita praktikkan pada orang tua, mereka akan menyadari perubahan yang bersifat konkret. Itu yang kelihatan, yang tidak kelihatan jauh lebih banyak lagi.

Apakah setelah mendapatkan jati diri baru ada tantangan dari luar?

Kalau bicara tentang tantangan, orang muslim atau orang bukan muslim punya tantangan. Tapi ketika kita kemudian menjadi Islam, kita jadi paham bahwa tantangan yang kita dapat ini tiada lain dan tiada bukan karena kita dimuliakan oleh Allah. Analoginya, pada prinsipnya, kapal itu dibuat untuk mengarungi lautan, ya kalau dia dibuat di dermaga lalu si kapal hanya diam di dermaga ya wajar dan aman, tapi kalau dia mengarungi lautan, dia jadi banyak tantangan, tapi justru tujuannya dia dibuat adalah untuk seperti itu.

Nah, sama seperti kita, kalau kita masuk Islam atau tak masuk Islam (agama apa pun) punya tantangan. Tapi ketika kita dalam Islam, tantangannya terarah, tantangannya memang untuk tujuan hidup kita. Jadi tak ada masalah.

Untuk proses belajarnya sendiri ketika awal mula mencari agama, arahannya dari mana?

Untuk mendapatkan Islam itu tak perlu belajar agama. Untuk mendapatkan Islam, cukup dengan berpikir. Kalau kita berpikir, kita pasti dapat Islam. Nah, setelah kita menjadi seorang muslim, bagaimana kita belajarnya? Harus seperti belajarnya orang-orang zaman dahulu. Kalau saya menyebutnya: sebuah kajian tersistematis, yang dilakukan secara berkala untuk memperdalam ilmu-ilmu Islam. Mulai dari tauhid, akidah, dakwah, dan syariah, dan sebagainya, itulah yang harus dipelajari.
Kesulitan yang pernah Ustad alami?
Kalau tantangan mencari Islam, yang pertama adalah informasi. Saya tumbuh dan berkembang di komunitas yang bukan muslim, sehingga mencari informasi itu agak sulit. Maka salah satu hal yang membuat saya lebih mudah bisa mendapatkan Islam adalah ketika berkomunitas Islam, hidup dalam komunitas Islam.
Waktu itu di mana?
Di IPB saya mendapatkan Islam. SMA-nya di SMA Xaverius 1 Palembang. Waktu itu lingkungan saya 95 persen adalah bukan Islam.

Apakah setelah mendapatkan jatidiri sebagai seorang muslim, ada kesulitan dalam menyempurnakan separuh agama, dalam hal ini mendapatkan jodoh?

Saya masuk Islam pada tahun 2002, menikah tahun 2006. Jadi menikah empat tahun setelah masuk Islam. Awalnya memang susah, apalagi berbicara dengan orang tua yang memang bukan muslim, tapi alhamdulillah bapak saya juga menikah muda, jadi saya juga ada alasan untuk menikah muda. Jadi alhamdulillah itu sudah dilewati.

Ketika proses mencari “seseorang” itu apakah ada kesulitan?

Awalnya selalu ada yang mempertanyakan. Kenapa harus yang berkerudung? Kenapa harus yang muslim? Sementara saya adalah yang etnis Chinese, dan bapak-ibu saya tidak terbiasa melihat orang yang memakai jilbab. Nah, itu pertanyaan ada, dan kami jawab memang seperti itulah agama memerintahkan. Tatkala kita ingin menikah, maka menikah bukan hanya peraduan fisik, bukan hanya kepuasan badan, tapi menikah itu tujuannya lebih mulia daripada itu. Itulah proses pembentukan sebuah keluarga yang bisa menggenapkan ibadah. Dan kedua, bisa melanjutkan keturunan.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa untuk melanjutkan keturunan itu perlu juga melihat tanah yang ditanami, peribaratan wanita yang ditanami, bila tanahnya baik, tanamannya baik. Itu artinya kita harus mencari istri yang baik. Dan tidak mungkin istri itu baik kalau ia tidak taat pada Allah.

Bertemu di mana dengan calon istri waktu itu?

Kami bertemu di IPB (Institut Pertanian Bogor), hahaha, kami cinta lokasi.

Pernah ada kesulitan mengenai pembuatan akta kelahiran?

Ya, ada cerita ketika anak kedua saya lahir, saya mau mengurus pembuatan akta kelahiran. Ketika saya datangi pihak rumah sakit, ada biaya pembuatan akta kelahiran. Untuk warga negara Indonesia itu Rp 70.000, tapi kalau katurunan itu Rp 200.000. Saya mempertanyakan, kenapa berbeda sekali antara WNI keturunan dan WNI? Sekarang kan sudah tidak ada lagi pembedaan keturunan dan bukan keturunan (Chinese). Petugasnya bilang ‘memang seperti itu’. Dia mau mengurus pembuatan akta kelahiran kalau saya mau memberikan harga yang lebih. Itu sudah sebuah diskriminasi, padahal petugas itu memakai kerudung, muslim, dan sebagainya.

Maka ini menjadi sebuah pertanyaan. Yang saya katakan bahwa Indonesia tidak puas untuk dijajah. Bahwa pembedaan antara etnis, pembedaan antaragama, pembedaan antara orang yang keturunan atau yang bukan keturunan,  itu kan berlaku di zaman Belanda melalui hal yang namanya statsblaad (STBLD) maka setiap orang yang lahir dengan keadaan tertentu dia punya statsblaad sendiri. Ya dengan kata lain Indonesia masih ikut kepada orang-orang Belanda dalam pengurusan itu, maka pengurusan akta kelahiran saya agak dipersulit. Karena saya selalu ditanya: “Bapak keturunan ya?” Saya katakan, “Bukan, saya orang Indonesia!”

Dia tetap menyatakan, “Oh, bapak itu keturunan, jadi STBLD-nya berbeda.” Nah, ini jadi membuat saya mengatakan bahwa ini adalah hasil daripada asshobiyah, tidak mengakibatkan kecuali perpecahan di antara manusia, tidak bisa menyatukan apa pun kecuali menyatukan etnis, kaum, ataupun bangsa, tapi tak bisa menyatukan dalam bentuk yang lebih besar. Nah, penyatuan yang lebih besar ini hanya bisa dilakukan dalam Islam, bukan selain itu.

Upaya Anda sendiri untuk mendapatkan akta?

Yang saya garisbawahi dalam menulis itu adalah bahwa nasionalisme itu kemudian membedakan antara satu etnis dengan satu etnis yang lain. Tidak peduli apakah mereka muslim atau tidak, harusnya kan yang dilihat itu muslimnya, bukan etnisnya.

Firman Allah: “Yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa.” Bukan yang paling kaya atau yang paling miskin, atau yang paling pribumi dan lain sebagainya. Itu yang perlu digarisbawahi dalam Islam, dan itu yang saya tujukan dalam menulis artikel tersebut.

Apa upaya Anda sebagai seorang ustaz dalam mengedukasi masyarakat untuk mendapatkan jati diri sorang muslim?

Ini merupakan tugas panjang, yang saya katakan mungkin tugas ini lebih besar daripada usia yang saya punya. Maka yang saya lakukan itu banyak, lewat Twitter, lewat Facebook, lewat media-media yang saya punya (termasuk dalam acara televisi) untuk menyampaikan bahwa ini bukan ikatan yang benar, nasionalisme bukan ikatan yang benar, etnis itu juga bukan ikatan yang benar, kekauman juga bukan ikatan yang benar, tapi semua itu harus dibingkai dengan ukhuwah. Nah itulah yang saya lakukan, entah kapan berhasilnya, kita lihat saja nanti.

Kalau untuk acara di televisi yang akan Anda buat ini?

Acara ini merupakan yang kami gunakan untuk mengenalkan Islam, walaupun kita tahu masih banyak kekurangan. Saya juga berdiskusi dengan tim, mereka berbuat apa yang mereka mampu, semaksimal yang mereka bisa, untuk membuat acara ini syar’i. Walaupun tentu saja pasti akan ada banyak kritikan-kritikan, tapi kami harap bahwa ini menjadi sebuah pintu untuk mengubah acara, yang kita inginkan sebagai sebuah idealisme adalah membuat suatu acara yang siap dikonsumsi oleh setiap warga dari umur yang tinggi sampai umur yang paling rendah.

Karena itulah kami harap acara ini bisa menjadi sebuah penyadaran. Di mana kami tidak dbatasi oleh ide-ide yang biasa muncul dari produser-produser yang lain seperti di televisi-televisi yang lain, kami berusaha untuk menampilkan Islam apa adanya. Mungkin kalau ke depan acara ini ditentang, ya wajar. Mungkin ada banyak pihak yang tidak setuju kalau Islam disampaikan secara total, disampaikan secara apa adanya.

Untuk segmen acara yang Anda pandu ini bagaimana?

Segmennya adalah umum. Makanya kami buat acara ini variety show yang kami gabung dengan musik, supaya segmen anak muda juga masuk. Segmen orang yang sudah pernah belajar Islam juga masuk, dan kami juga menggarap segmen terluar dari Islam, yang mungkin tidak pernah pergi ke masjid, yang tidak pernah pergi ke pengajian, itu kami ajak, kami sentuh untuk mendapatkan inspirasi dari acara ini. Selanjutnya kami harapkan mereka bisa mengkaji lebih lanjut.

Yang membedakan acara ini dengan talkshow yang lain?

Saya berharap bahwa tidak ada satu pun isu-isu yang tidak kami angkat sesuai dengan Islam. Kalau ada restriksi di beberapa stasiun televisi yang lain, kami berharap di sini tidak ada restriksi. Ya kalau ada restriksi, ya itulah risikonya. Apa pun yang terjadi ke depan, mudah-mudahan kita jadi orang yang tak takut menyampaikan Islam. Itulah yang kami harapkan dari acara ini.

Dalam keluarga, bagaimana kegiatan istri?

Istri saya seorang ibu rumah tangga penuh. Mengurus keluarga di rumah. Anak saya ada tiga. Istri full mengurus rumah tangga. Kalau dia keluar, itu atas izin saya. Dan memang diusahakan tidak mengganggu fungsi utama beliau yaitu ummu warobbatul bait.

Ada motivasi tersendiri dari istri?

Fungsi istri luar biasa. Kalau saya pulang, saya ketemu istri. Saya capek, saya ketemu istri. Istri jadi tempat curhat. Kalau yang seperti itu saja istri tidak memahami, saya tak tahu harus pergi ke mana lagi. Entah mencari siapa. Karena istri itu adalah orang yang paling dekat dan paling mengerti kita.

Makanya Allah mengatakan bahwa kita tak boleh telanjang pada siapa pun, kecuali pada istri. Itu adalah bukti bahwa istri menjadi satu dengan kita. Dia menjadi bagian dari kita. Kalau kemudian kita ambil sesuatu yang salah, atau ambil istri yang salah, berarti kita juga pasti salah. Makanya, di balik seorang laki-laki yang hebat, pasti ada wanita yang hebat juga.

Pendidikan seperti apa yang diterapkan pada anak-anak terkait pencarian jati diri?

Pendidikan saya sederhana, bahwa aturan Allah itu adalah mutlak. Dan kemudian saya ingin mereka memahami bahwa ketika Allah sudah berkehendak, ketika Allah telah memerintahkan sesuatu, maka tugas manusia bukan lagi mencari pembenaran atas aturan yang lain. Tapi itu sederhana saja, kita tinggal melaksanakan aturan itu. Itulah yang saya bentuk pada anak-anak, sebuah jiwa herois yang menyadarkan mereka apa tujuan mereka, yaitu berdakwah. Saya coba bentuk mereka dari awal agar poros hidupnya adalah berdakwah, sebagaimana bapaknya.

Apa pesan/ harapan pada masyarakat?

Sederhana, kita itu hancur dan terpuruk. Kita itu tidak menjadi muslim yang hebat yang sebagaimana dijanjikan oleh Allah dalam Al-Qur’an karena kita membuang Al-Qur’an. Atau kita cuma mengambil sebagian dari Al-Qur’an, kemudian membuang sebagian yang lain.

Allah SWT berfirman, Apakah kalian hendak mengambil sebagian dari kitab ini, lalu mencampakkan sebagian yang lain? Mengingkari yang lain? Membangkang terhadap sesuatu hal yang lain?

Nah, kemudian ketika melakukan hal yang seperti ini, melaksanakan secara parsial dan parsial, maka Allah tak akan memberikan bantuan yang bersifat total pada kita. Oleh karena itu masyarakat harus sadar bahwa kerusakan-kerusakan yang terjadi yang kita lihat itu adalah hasil tidak diterapkannya Islam. Maka solusi satu-satunya adalah “diterapkannya Islam”, tidak ada yang lain.

Biodata Ustad Felix Siauw

Nama : Felix Yanwar Siauw
Usia : 31 Januari 1984
Tempat Lahir : Palembang
Aktivitas : Dakwah, Penulis Buku, Presenter Acara “Inspirasi Iman” di TVRI
Buku : Muhammad Al-Fatih 1453; Beyond the Inspiration; How to Master Your Habits
Website : www.felixsiauw.com

---

Dinukil: muzakki.com

Ustad Syamsi Ali, Da'i Asal Indonesia di Negeri Paman Sam

8/10/2014 Add Comment
Sumber Gambar
Remash-smkn1batam.tk Imam Shamsi Ali adalah seorang Cendekiawan Muslim  terkenal dan Imam terkenal di New York City, Amerika Serikat. Dia adalah seorang Imam masjid terbesar di kota yang terletak di Jalan 96 dan 3 AV Manhattan ini. Dia adalah Ketua Masjid Al-Hikmah di Astoria dan Direktur Jamaica Muslim Center di Queens. 
Imam Ali menjabat sebagai anggota Dewan Penasehat untuk berbagai organisasi lintas agama, termasuk Tanenbaum Center dan Federasi untuk Perdamaian Timur Tengah. Dia juga Ketua Dewan Pembina untuk Muslim Federation Asean Amerika Utara. Imam Ali juga adalah anggota Dewan untuk Kemitraan Iman di NY, dan co-pendiri UNCC (Universal Rohaniwan Koalisi-Internasional). Selain itu, ia juga Asisten Direktur dan anggota Dewan Yayasan Muslim Amerika, Inc, dan Ketua tahunan Hari Muslim Parade di NYC. Beliau juga menjabat sebagai Wakil Presiden Koalisi Asia-Amerika AS (AAC-USA) dan Perwakilan PBB-nya. 

Dalam komunitas Muslim Indonesia di Amerika Utara, Imam Ali adalah sosok terkenal. Menjabat sebagai Dewan Penasehat untuk organisasi Muslim nasional utama seperti IMSA (Masyarakat Indonesia Muslim di Amerika) dan ICMI (Indonesia Muslim Intelektual Masyarakat di Amerika). 

Terkenal di komunitas lintas agama, Imam Ali adalah pemuka agama Islam. Dia menjadi dosen di gereja-gereja, rumah-rumah ibadat dan lembaga lainnya baik secara nasional dan di seluruh dunia. Ia berada di antara beberapa pemimpin agama yang diajak untuk menemani Presiden George W. Bush untuk mengunjungi Ground Zero setelah hari 11 September, dan mewakili komunitasnya selama Doa Yankee Stadium untuk acara America bersama pejabat tinggi sisi agama dan pemerintah, termasuk Mantan Presiden Bill Clinton dan kemudian Senator Hillary Clinton. 

Imam Ali memiliki kesempatan untuk bertemu dengan berbagai tokoh, seperti Mantan Presiden GW Bush, Bill Clinton, Hillary Clinton, Pataki, Michel Bloomberg, serta Presiden Bambang Yudhoyono RI dan mantan Presiden Prof. B.J. Habibie dan KH. Abdurrahman Wahid. 

Imam Ali berpartisipasi dalam International Conference of Imams and Rabbis for Peace di Seville Spain 2006 dan National Summit of Imams and Rabbis of North pertama di America 2007. Ia mewakili komunitas Muslim pada diskusi antaragama pada Agama dan Pembangunan Berkelanjutan di Gedung Putih di 2007, dan berpartisipasi dalam 2008 Transatlantic Interfaith Dialogue di Frankfurt, Jerman. 

Imam Ali diangkat "Duta Perdamaian" oleh Federasi Internasional Agama pada tahun 2002, dan penerima 2.008 ICLI Interfaith Award. Pada tahun 2006, ia diangkat salah satu dari tujuh pemimpin agama paling berpengaruh di New York City oleh New York Magazine. 

Tahun lalu, Imam Ali dianugerahi salah satu dari 100 penerima 2009 Ellis Island Medal of Honor Award. Medali emas ini bergengsi non militer adalah pengakuan tertinggi yang diberikan kepada imigran dengan kontribusi luar biasa bagi masyarakat Amerika dan dunia. Dan baginya, itu karena dedikasinya yang tak ada habisnya dalam membangun jembatan antar umat beragama. Selanjutnya, pada tahun 2009, 2010, 2011 dan 2012, Imam Ali terpilih sebagai salah satu dari 500 Muslim paling berpengaruh di dunia oleh Royal Islamic Strategic Studies Center di Yordania dan Universitas Georgetown.

Seorang cendekiawan Al-Quran yang baik, yang berbicara fasih, di samping bahasa Indonesia asalnya, Inggris, Arab dan Urdu, Imam Ali memperoleh gelar BA dalam tafsir dari Universitas Islam Internasional Islamabad Pakistan pada tahun 1991, MA dalam Studi komparatif Agama dari universitas yang sama pada tahun 1994. Dia sering menjadi pembicara di forum PBB dan kontributor media yang tamu untuk ABC, PBS, BBC World, CNN, Fox News, National Geographic, al-Jazeera, Hallmark Channel.

Imam Shamsi Ali adalah penduduk asli Indonesia, lahir dan dibesarkan di Bulukumba, Sulawesi Selatan, daerah yang terkenal untuk sekunar kayu tradisional yang disebut pinisi. Dia berusia 43 tahun dan saat ini berada di Jamaika, Queens, dengan istri Mutiah dan lima anak.

Semoga kisah di atas dapat memberikan motivasi kepada kita untuk terus mendakwahkan ajaran islam sampai ke seluruh dunia. Aamiin Yaa Rabbal 'Alamin.

---

Dinukil: shamsiali.com
Diterjemahkan: Aliansyah Putra, bantuan translate.google.com

Muhammad Al-Fatih, Penakluk Konstantinopel

8/08/2014 Add Comment

Remash-smkn1batam.tk - Muhammad Al-Fatih adalah salah seorang raja atau sultan Kerajaan Utsmani yang paling terkenal. Ia merupakan sultan ketujuh dalam sejarah Bani Utsmaniah. Al-Fatih adalah gelar yang senantiasa melekat pada namanya karena dialah yang mengakhiri atau menaklukkan Kerajaan Romawi Timur yang telah berkuasa selama 11 abad.

Sultan Muhammad Al-Fatih memerintah selama 30 tahun. Selain menaklukkan Bizantium, ia juga berhasil menaklukkan wilayah-wilayah di Asia, menyatukan kerajaan-kerajaan Anatolia dan wilayah-wilayah Eropa, dan termasuk jasanya yang paling penting adalah berhasil mengadaptasi menajemen Kerajaan Bizantium yang telah matang ke dalam Kerajaan Utsmani. 

Karakter Pemimpin Yang Ditanamkan Sejak Kecil 

Muhammad Al-Fatih dilahirkan pada 27 Rajab 835 H/30 Maret 1432 M di Kota Erdine, ibu kota Daulah Utsmaniyah saat itu. Ia adalah putra dari Sultan Murad II yang merupakan raja keenam Daulah Utsmaniyah.

Sultan Murad II memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan anaknya. Ia menempa buah hatinya agar kelak menjadi seorang pemimpin yang baik dan tangguh. Perhatian tersebut terlihat dari Al-Fatih kecil yang telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz, mempelajari hadist-hadist, memahami ilmu fiqh, belajar matematika, ilmu falaq, dan strategi perang. Selain itu, Al-Fatih juga mempelajari berbagai bahasa, seperti: bahasa Arab, Persia, Latin, dan Yunani. Tidak heran, pada usia 21 tahun Muhammad sangat lancar berbahasa Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani. Walaupun usianya baru seumur jagung, sang ayah, Sultan Murad II, mengamanahi Sultan Muhammad Al-Fatih memimpin suatu daerah dengan bimbingan para ulama. Hal itu dilakukan sang ayah agar anaknya cepat menyadari bahwa dia memiliki tanggung jawab yang besar di kemudian hari. Bimbingan para ulama diharapkan menjadi kompas yang mengarahkan pemikiran anaknya agar sejalan dengan pemahaman Islam yang benar. 

Menjadi Penguasa Utsmani 

Sultan Muhammad Al-Fatih diangkat menjadi Khalifah Utsmaniyah pada tanggal 5 Muharam 855 H bersamaan dengan 7 Februari 1451 M. Program besar yang langsung ia canangkan ketika menjabat sebagai khalifah adalah menaklukkan Konstantinopel.

Langkah pertama yang Sultan Muhammad lakukan untuk mewujudkan cita-citanya adalah melakukan kebijakan militer dan politik luar negeri yang strategis. Ia memperbarui perjanjian dan kesepakatan yang telah terjalin dengan negara-negara tetangga dan sekutu-sekutu militernya. Pengaturan ulang perjanjian tersebut bertujuan menghilangkan pengaruh Kerajaan Bizantium Romawi di wilayah-wilayah tetangga Utsmaniah baik secara politis maupun militer. 

Menaklukkan Bizantium 

Sultan Muhammad Al-Fatih juga menyiapkan lebih dari 4 juta prajurit yang akan mengepung Konstantinopel dari darat. Pada saat mengepung benteng Bizantium banyak pasukan Utsmani yang gugur karena kuatnya pertahanan benteng tersebut. Pengepungan yang berlangsung tidak kurang dari 50 hari itu, benar-benar menguji kesabaran pasukan Utsmani, menguras tenaga, pikiran, dan perbekalan mereka.

Pertahanan yang tangguh dari kerajaan besar Romawi ini terlihat sejak mula. Sebelum musuh mencapai benteng mereka, Bizantium telah memagari laut mereka dengan rantai yang membentang di semenanjung Tanduk Emas. Tidak mungkin bisa menyentuh benteng Bizantium kecuali dengan melintasi rantai tersebut.

Akhirnya Sultan Muhammad menemukan ide yang ia anggap merupakan satu-satunya cara agar bisa melewati pagar tersebut. Ide ini mirip dengan yang dilakukan oleh para pangeran Kiev yang menyerang Bizantium di abad ke-10, para pangeran Kiev menarik kapalnya keluar Selat Bosporus, mengelilingi Galata, dan meluncurkannya kembali di Tanduk Emas, akan tetapi pasukan mereka tetap dikalahkan oleh orang-orang Bizantium Romawi. Sultan Muhammad Al-Fatih melakukannya dengan cara yang lebih cerdik lagi, ia menggandeng 70 kapalnya melintasi Galata ke muara setelah meminyaki batang-batang kayu. Hal itu dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, tidak sampai satu malam.

Di pagi hari, Bizantium kaget bukan kepalang, mereka sama sekali tidak mengira Sultan Muhammad Al-Fatih dan pasukannya menyeberangkan kapal-kapal mereka lewat jalur darat. 70 kapal laut diseberangkan lewat jalur darat yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar, menebangi pohon-pohonnya dan menyeberangkan kapal-kapal dalam waktu satu malam adalah suatu kemustahilan menurut mereka, akan tetapi itulah yang terjadi. 

Tanduk Emas atau Golden Horn di Istanbul, Turki, Sumber Gambar  

Peperangan dahsyat pun terjadi, benteng yang tak tersentuh sebagai simbol kekuatan Bizantium itu akhirnya diserang oleh orang-orang yang tidak takut akan kematian. Akhirnya kerajaan besar yang berumur 11 abad itu jatuh ke tangan kaum muslimin. Peperangan besar itu mengakibatkan 265.000 pasukan umat Islam gugur.

Pada tanggal 20 Jumadil Awal 857 H bersamaan dengan 29 Mei 1453 M, Sultan Al-Ghazi Muhammad berhasil memasuki Kota Konstantinopel. Sejak saat itulah ia dikenal dengan nama Sultan Muhammad Al-Fatih, penakluk Konstantinopel.

Saat memasuki Konstantinopel, Sultan Muhammad Al-Fatih turun dari kudanya lalu sujud sebagai tanda syukur kepada Allah. Setelah itu, ia menuju Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan menggantinya menjadi masjid. Konstantinopel dijadikan sebagai ibu kota, pusat pemerintah Kerajaan Utsmani dan kota ini diganti namanya menjadi Islambul yang berarti negeri Islam, lau akhirnya mengalami perubahan menjadi Istanbul.

Selain itu, Sultan Muhammad Al-Fatih juga memerintahkan untuk membangun masjid di makam sahabat yang mulia Abu Ayyub Al-Anshari Radhiallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang wafat saat menyerang Konstantinopel di zaman Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan Radhiallahu ‘anhu.

Apa yang dilakukan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih tentu saja bertentangan dengan syariat, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,

أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوْا يَتَّخِذُوْنَ قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُوْرَ مَسَاجِدَ، إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ.

“… Ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai tempat ibadah, tetapi janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu melakukan perbuatan itu.” (HR. Muslim: 532). 

Kekeliruan yang dilakukan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih tidak serta-merta membuat kita menafikan jasa-jasanya yang sangat besar. Semoga Allah mengampuni kesalahan dan kekhilafannya beliau Rahimahullah. 

Setelah itu rentetan penaklukkan strategis dilakukan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih, ia membawa pasukannya menaklukkan Balkan, Yunani, Rumania, Albania, Asia Kecil, dan lain-lain. Bahkan ia telah mempersiapkan pasukan dan mengatur strategi untuk menaklukkan kerajaan Romawi di Italia, akan tetapi kematian telah menghalanginya untuk mewujudkan hal itu. 

Peradaban Yang Dibangun Pada Masanya 

Selain terkenal sebagai jenderal perang dan berhasil memperluas kekuasaan Utsmani melebihi sultan-sultan lainnya, Muhammad Al-Fatih juga dikenal sebagai seorang penyair. Ia memiliki diwan, kumpulan syair yang ia buat sendiri.

Sultan Muhammad juga membangun lebih dari 300 masjid, 57 sekolah, dan 59 tempat pemandian di berbagai wilayah Utsmani. Peninggalannya yang paling terkenal adalah Masjid Sultan Muhammad II dan Jami’ Abu Ayyub al-Anshari 

Wafatnya Sang Penakluk 

Pada bulan Rabiul Awal tahun 886 H/1481 M, Sultan Muhammad Al-Fatih pergi dari Istanbul untuk berjihad, padahal ia sedang dalam kondisi tidak sehat. Di tengah perjalanan, sakit yang ia derita kian parah dan semakin berat ia rasakan. Dokter pun didatangkan untuk mengobatinya, namun dokter dan obat tidak lagi bermanfaat bagi sang Sultan, ia pun wafat di tengah pasukannya pada hari Kamis, tanggal 4 Rabiul Awal 886 H/3 Mei 1481 M. Saat itu Sultan Muhammad berusia 52 tahun dan memerintah selama 31 tahun. Ada yang mengatakan wafatnya Sultan Muhammad Al-Fatih karena diracuni oleh dokter pribadinya Ya’qub Basya, Allahu a’lam.

Tidak ada keterangan yang bisa dijadikan sandaran kemana Sultan Muhammad II hendak membawa pasukannya. Ada yang mengatakan beliau hendak menuju Itali untuk menaklukkan Roma ada juga yang mengatakan menuju Prancis atau Spanyol.

Sebelum wafat, Muhammad Al-Fatih mewasiatkan kepada putra dan penerus tahtanya, Sultan Bayazid II agar senantiasa dekat dengan para ulama, berbuat adil, tidak tertipu dengan harta, dan benar-benar menjaga agama baik untuk pribadi, masyarakat, dan kerajaan. 

Subhanallah. 
Semoga Allah membalas jasa-jasamu wahai Sultan Muhammad Al-Fatih.

--- 

Dinukil dari: islamstory.com dan kisahmuslim.com